Judul: Wiro
Sableng PendekarMau Naga Geni 212
Sutradara: Angga
Dwimas Sasongko
Skenario: Seno
Gumira Ajidarma, Tumpal Tampubolon, dan Sheila Timothy
Sinematografi:
Rahmat Syaiful
Musik: Aria
Prayogi
Pemain: Vino G.
Bastian, Yayan Ruhiyan, Dwi Sasono, Lukman Sardi, Marsha Timothy dll
Genre: laga,
komedi, petualangan
Nilai: 8/10
Premis
Setelah berguru
selama 17 tahun pada Sinto Gendeng, Wiro Sableng harus keluar dari hutan untuk
menuntaskan tugas yang diberi oleh gurunya. Di perjalanan, masalah demi masalah
datang menghampiri, sebelum mencapai pada tujuan akhirnya. Dengan berbagai
jurus dan lawakan, ia berusaha menunaikan pesan gurunya.
Ulasan
Pertama, saya
ingin menekankan bahwa saya adalah orang awam yang belum pernah membaca
komik-komik Wiro Sableng karangan Bastian Tito. Jadi, barangkali ada pengamatan
yang meleset dan terlihat banyak omong kosong, terkait cerita, karakter, dan
hal-hal yang berkaitan dengan Sang Pendekar Maut Naga Geni 212 ini, saya minta
maaf. Oke. Lanjut.
Gema Wiro
Sableng akan dibuat filmnya sudah terdengar jauh-jauh hari dan langsung menarik
perhatian saya. Meskipun belum pernah baca komiknya, paling tidak saya tahu
bahwa dia adalah salah satu dari sekian tokoh atau superhero Indonesia yang
cukup melegenda. Terlebih, setelah mendengar sutradaranya adalah Angga D.
Sasongko (Filosofi Kopi) ditambah lagi pembuatan film ini bekerja sama dengan
20th Century Fox, maka ekspektasi saya langsung menjadi-jadi
membabi-buta.
Kemudian masuk
pada masa pengenalan para pemeran akan bermain dalam film ini. Bintang semua,
sodara-sodara. Marsha Timothy, Lukman Sardi, Arif Wikana, Dwi Sasono, Happy
Salma, Yayan Ruhiyan, Cecep Arif Rahman, Sherina Munaf, Yayu Unru, Andy /rif,
Yusuf Mahardika, dan masih banyak lagi. Dan uniknya adalah pemeran Wiro Sableng
adalah Vino G. Bastian, yang mana adalah anak dari penulis komik Wiro Sableng,
Bastian Tito. Ekspektasi semakin menggila.
Kemudian sampailah
di hari pertama penayangan.
Dan Wiro Sableng
akan menjadi tolok ukur perfilman Indonesia ke depannya. Meski belum sempurna,
banyak hal yang bisa dicontoh oleh sineas tanah air. Film ini seakan berkata, “Buat
film itu begini.” Banyak elemen yang luar biasa dan tak akan kita temui di
film-film Indonesia kebanyakan.
Mari kita bahas
yang bagus-bagus terlebih dahulu.
Production
Value-nya benar-benar membuat kita berpikir ragu, “Yakin nih orang Indonesia
yang bikin?” sinematografi yang indah, setting tempat yang begitu niat, scoring
yang terdengar mewah di telinga, koreografi kelahi yang dibawahi oleh Yayan
Ruhiyan sudah menjadi jaminan kualitas, dan CGI yang lumayan bagus, meski ya
agak kasar, paling tidak menjadi awal yang baik untuk dunia per-CGI-an di
Indonesia. Mungkin semua elemen diatas dipengaruhi oleh keterlibatan 20th
Century Fox dalam produksi filmnya. Ya, jauhhhhhhhhhhhhhh lebih baik dari film
superhero-yang-pakai-nama-burung-lambang-negara itulah. Hehehehehehe.
Sulit mencari
pembanding untuk film ini, karena memang jarang sekali sineas kita berani
mengambil genre dan tema yang beda dari kebanyakan. Apalagi jenis film silat
bersetting lampau dan diadaptasi dari karya yang sudah melegenda. Film terdekat
yang seharusnya bisa dipakai sebagai pembanding, karena banyak kemiripan,
adalah Pendekar Tongkat Emas yang rilis beberapa tahun yang lalu. Sayangnya,
saya tidak sempat menontonnya. Jadi ya
Yang sangat saya
sayangkan adalah ceritanya yang menurut saya seharusnya bisa dikembangkan lagi.
Banyak hal yang agak mengusik pikiran ketika saya menontonnya. Seperti motivasi
tokoh ini melakukan sesuatu yang kurang, hubungan antar tokoh yang terasa
hambar, dan klimaks yang begitu saja. Bagaimana ya, padahal cerita adalah salah
satu elemen inti sebuah film. Porsi dalam film ini dibagi seperti 50% kelahi,
30% lawak, dan 20% cerita inti. Sebagai orang awam, itu yang saya rasakan.
![]() |
| Karakter-Karakter di Wiro Sableng (2018) |
Bahkan nama-nama
tenar tak menjamin keberhasilan suatu film dari segi cerita. Tapi memang saya
harus member kredit pada Vino G. Bastian yang memerankan Wiro Sableng. Totalitas
dan begitu menjiwai. Selain itu, pemeran lainnya pun bermain dengan apik,
meskipun beberapa di antaranya terlihat kaku dan kikuk, mungkin karena dialog ‘agak
baku’ atau apa saya tidak tahu, di beberapa adegan. Juga, kelemahan lainnya
adalah karena banyaknya karakter pembagian screentime untuk setiap tokoh yang
terasa kurang pas saja begitu.
Selebihnya, Wiro
Sableng adalah film yang megah dan luar biasa. Angin segar bagi dunia perfilman
Indonesia nantinya. Rugi kalian kalau melewatkan kebangkitan film silat atau
superhero local, karena setelah ini ada juga film Gundala dan Si Buta dari Goa
Hantu dan lain-lain. Tontonlah. Lawakan sablengnya juga cukup menghibur, kok.
OYA, jangan
keburu keluar, ada mid-credit scene! Meskipun saya agak bingung, tapi katanya
itu bocoran penting untuk film selanjutnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar