Laman

Selasa, 18 Desember 2018

[Movie Review] Spider-Man: Into The Spider-Verse (2018)


Sutradara: Bob Persichetti, Peter Ramsey, Rodney Rothman
Penulis: Phil Lord (cerita), Rodney Rothman(skenario), Sara Pichelli(Komik)
Pemain: Shameik Moore, Jake Johnson, Chris Pine, Hailee Steinfeld, Mahershala Ali, Brian Tyree Henry, Lily Tomlin, Luna Lauren velez, John Mulaney, Kimiko Glenn, Nicholas Cage
Genre: Animasi, superhero, laga
Musik: Daniel Pemberton
Nilai: 9/10

Kita semua telah melihat Spider-Man—yup, kalian harus menggunakan hypen atau tanda hubung ketika menuliskan nama karakter tersebut—di layar lebar dan diperankan oleh beberapa aktor yang berbeda dan digarap oleh sutradara yang berbeda pula dengan cerita orisinal yang tak jauh beda. Mulai dari trilogi milik Sam Raimi yang menampilkan Tobey Maguire sebagai manusia laba-laba, kemudian Andrew Garfield di The Amazing Spider-Man, dan yang terbaru, ketika Sony sepakat bekerja sama dengan Marvel untuk memasukkan karakter Spider-Man ke dalam Marvel Cinematic Universe, Tom Holland berkesempatan menjadi orang dibalik topeng. Dan ketika Sony mengumumkan bahwa mereka hendak memproduksi film baru tentang Peter Parker, saya berpikir, berapa kali lagi saya harus melihat Paman Ben meninggal dan Mary Jane mencampakkan Peter Parker?


Saya bersyukur ketika tahu bahwa Spider-Man kali ini mengangkat cerita-yang-bukan-peter-sebagai-tokoh-utamanya kemudian dibuat menjadi film animasi. Itu hal yang baru dan cukup untuk menarik perhatian saya untuk mengikuti setiap perkembangannya. Apalagi ada embel-embel spider-verse di judulnya. Saya berkali-kali membaca istilah spider-verse ketika akun komik yang saya ikuti menyarankan komik apa yang harus orang-orang baca. Namun, saya terlalu malas untuk membeli atau mungkin mencari bajakannya di internet untuk membacanya secara langsung. Kemudian saya hanya mengulik sedikit dan tahu bahwa intinya, istilah spider-verse menjelaskan bahwa Peter Parker bukanlah satu-satunya Spider-Man di semesta ini.

Spider-Man: Into The Spider-Verse premis
Semua bermula seperti cerita-cerita Spider-Man yang kita tahu, Miles Morales didigit semacam laba-laba radioaktif kemudian mendapatkan kekuatan super. Dia berusaha beradaptasi dengan kekuatan tersebut dan di saat yang bersamaan Wilson Fisk/Kingpin sedang mengoperasikan purwarupa yang ternyata dapat membuka pintu antar dimensi. Kemudian, datanglah lima Spider-Man dari lima semesta yang berbeda: Peter B. Parker/Spider-Man, Spider-Noir, Gwen Stacy/Spider-Woman, Peter Porker/Spider-Ham, dan Peni Parker, untuk membantu menyelesaikan kekacauan yang dibuat Kingpin.
Ulasan
 
Mengesampingkan bahwa ini film superhero, ada sudut pandang lain yang bisa kita lihat di dalamnya. Ada hubungan keluarga, proses menuju kedewasaan, merelakan, pengorbanan dan banyak lagi. Miles juga digambarkan sebagai karakter yang dekat dengan kita, masalah-masalah yang ia hadapi hampir setiap kita pernah mengalaminya, sehingga membuat kita menaruh simpati pada setiap tindakan yang ia lakukan. Kita paham kenapa ia berbuat seperti itu. Karakter yang mudah disukai. Realistis.

Meskipun mengambil cerita yang cukup kompleks hingga mengusung ilmu fisika mengenai keberadaan semesta yang tak terbatas dan dunia parallel, ceritanya masih bisa diikuti dengan nyaman tanpa memutar otak. Paling tidak bagi saya. Entah bagaimana pemahaman anak-anak ketika disuguhkan konsep dimensi-dimensi, parallel, semesta, hukum fisika dan semacamnya. Tapi, yang saya suka, kemasan yang dibuat sutradara mengesankan bahwa ceritanya ringan dan mengasyikan untuk diikuti, sebab rentetan aksi yang luar biasa di sepanjang durasi film.

Porsi Spider lainnya juga menurut saya pas dan tidak menutupi Miles sebagai fokus utama. Juga setiap karakter memiliki cirri khasnya masing-masing, sebab mereka memiliki latar belakang yang jauh berbeda di masing-masing semesta. Saya sempat mengira pengelaman kelima spider ini akan menggunakan cara yang sama, ternyata tidak, meskipun intinya sama. Jika proses pengelanan dilakukan dengan cara yang sama persis berpotensi membuat bosan dan memperpanjang durasi saja.

Animasi yang dibuat unik dan sangat komikal memberikan nilai lebih pada film ini. Mungkin tidak sedetail buatan Pixar, bahkan mungkin ada unsur kesengajaan membuat gambarnya agak blur atau semacamnya, tapi justru di situlah letak keunikannya. Ditambah lagi muncul kotak text seperti di komik yang menggambarkan pemikiran para tokoh dan efek-efek seperti ‘kapoww’, ‘AAAAA’ dan sejenisnya, seolah-olah membuat kita sedang menonton komik yang bergerak. Kita juga akan dimanjakan oleh visual yang ditampilkan. Warna, desain, dan apapun itu namanya membuat kita merasa sayang untuk sekadar melewatkan bawang sedetik saja. Indah sekali.

Ketika Marvel terlibat, maka bersiaplah dengan lelucon-lelucon yang bisa membuat kita tertawa lepas atau sekadar tersenyum. Berkali-kali guyonan dilontarkan dan menurut saya cukup berhasil. Meskipun, dalam beberapa kesempatan saya merasa agak kurang meledak. Mungkin saya telah menonton cuplikan adegan tersebut atau memang komedinya bukan selera saya. Entah. Tapi, percayalah, humornya menyenangkan.

Satu lagi hal yang membuat saya sangat menyukai film ini. Musiknya. Sulit untuk mencegah kaki ikut menghentak atau menganggukan kepala mengikuti tiap beat-nya. Meskipun, terus terang, saya kurang familiar dengan lagu-lagunya, sebenarnya banyak hal yang kurang familiar yang saya jumpai di film ini, namun justru itulah titik menyenangkannya. Tidak ada ekspektasi, ada elemen kejutan. Sesuatu yang baru.

Saya bukan penggemar fanatik karakter Spider-Man, tapi sepanjang menonton film ini, saya menjumpai beberapa referensi atau easter eggs. Seperti tarian Spider-Man, cameo, gambar di credit title, hingga post-credit scene. Bisa jadi ketika orang-orang yang suka membaca komiknya mendapatkan lebih banyak referensi daripada yang saya dapatkan. Rasanya melegakan sekaligus menyenangkan ketika mengetahui ada makna terselubung atau referensi dari adegan yang ditampilkan.

Tak heran jika banyak orang menjadikan film ini sebagai film Spider-Man terbaik jika dibandingkan dengan para pendahulunya. Petualangan yang menyenangkan, visual yang memanjakan mata, musik keren, dan tak hanya satu, kita bisa melihat paling tidak tujuh Spider-Man dalam satu film. Tontonlah.

Oya, ada dua credit scene. Yang terakhir keren:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar