Sutradara:
Bob Persichetti, Peter Ramsey, Rodney Rothman
Penulis:
Phil Lord (cerita), Rodney Rothman(skenario), Sara Pichelli(Komik)
Pemain:
Shameik Moore, Jake Johnson, Chris Pine, Hailee Steinfeld, Mahershala Ali,
Brian Tyree Henry, Lily Tomlin, Luna Lauren velez, John Mulaney, Kimiko Glenn,
Nicholas Cage
Genre:
Animasi, superhero, laga
Musik:
Daniel Pemberton
Nilai:
9/10
Kita semua telah
melihat Spider-Man—yup, kalian harus menggunakan hypen atau tanda hubung ketika
menuliskan nama karakter tersebut—di layar lebar dan diperankan oleh beberapa
aktor yang berbeda dan digarap oleh sutradara yang berbeda pula dengan cerita
orisinal yang tak jauh beda. Mulai dari trilogi milik Sam Raimi yang menampilkan
Tobey Maguire sebagai manusia laba-laba, kemudian Andrew Garfield di The
Amazing Spider-Man, dan yang terbaru, ketika Sony sepakat bekerja sama dengan
Marvel untuk memasukkan karakter Spider-Man ke dalam Marvel Cinematic Universe,
Tom Holland berkesempatan menjadi orang dibalik topeng. Dan ketika Sony
mengumumkan bahwa mereka hendak memproduksi film baru tentang Peter Parker,
saya berpikir, berapa kali lagi saya harus melihat Paman Ben meninggal dan Mary
Jane mencampakkan Peter Parker?
Saya bersyukur
ketika tahu bahwa Spider-Man kali ini mengangkat
cerita-yang-bukan-peter-sebagai-tokoh-utamanya kemudian dibuat menjadi film
animasi. Itu hal yang baru dan cukup untuk menarik perhatian saya untuk mengikuti
setiap perkembangannya. Apalagi ada embel-embel spider-verse di judulnya. Saya berkali-kali
membaca istilah spider-verse ketika akun komik yang saya ikuti menyarankan
komik apa yang harus orang-orang baca. Namun, saya terlalu malas untuk membeli
atau mungkin mencari bajakannya di internet untuk membacanya secara langsung. Kemudian
saya hanya mengulik sedikit dan tahu bahwa intinya, istilah spider-verse menjelaskan
bahwa Peter Parker bukanlah satu-satunya Spider-Man di semesta ini.
Spider-Man: Into The Spider-Verse premis
Semua bermula
seperti cerita-cerita Spider-Man yang kita tahu, Miles Morales didigit semacam
laba-laba radioaktif kemudian mendapatkan kekuatan super. Dia berusaha
beradaptasi dengan kekuatan tersebut dan di saat yang bersamaan Wilson
Fisk/Kingpin sedang mengoperasikan purwarupa yang ternyata dapat membuka pintu
antar dimensi. Kemudian, datanglah lima Spider-Man dari lima semesta yang
berbeda: Peter B. Parker/Spider-Man, Spider-Noir, Gwen Stacy/Spider-Woman,
Peter Porker/Spider-Ham, dan Peni Parker, untuk membantu menyelesaikan
kekacauan yang dibuat Kingpin.
Ulasan

Mengesampingkan bahwa
ini film superhero, ada sudut pandang lain yang bisa kita lihat di dalamnya. Ada
hubungan keluarga, proses menuju kedewasaan, merelakan, pengorbanan dan banyak
lagi. Miles juga digambarkan sebagai karakter yang dekat dengan kita, masalah-masalah
yang ia hadapi hampir setiap kita pernah mengalaminya, sehingga membuat kita
menaruh simpati pada setiap tindakan yang ia lakukan. Kita paham kenapa ia
berbuat seperti itu. Karakter yang mudah disukai. Realistis.
Meskipun mengambil
cerita yang cukup kompleks hingga mengusung ilmu fisika mengenai keberadaan
semesta yang tak terbatas dan dunia parallel, ceritanya masih bisa diikuti
dengan nyaman tanpa memutar otak. Paling tidak bagi saya. Entah bagaimana pemahaman
anak-anak ketika disuguhkan konsep dimensi-dimensi, parallel, semesta, hukum
fisika dan semacamnya. Tapi, yang saya suka, kemasan yang dibuat sutradara
mengesankan bahwa ceritanya ringan dan mengasyikan untuk diikuti, sebab
rentetan aksi yang luar biasa di sepanjang durasi film.
Porsi Spider
lainnya juga menurut saya pas dan tidak menutupi Miles sebagai fokus utama. Juga
setiap karakter memiliki cirri khasnya masing-masing, sebab mereka memiliki
latar belakang yang jauh berbeda di masing-masing semesta. Saya sempat mengira
pengelaman kelima spider ini akan menggunakan cara yang sama, ternyata tidak,
meskipun intinya sama. Jika proses pengelanan dilakukan dengan cara yang sama
persis berpotensi membuat bosan dan memperpanjang durasi saja.
Animasi yang
dibuat unik dan sangat komikal memberikan nilai lebih pada film ini. Mungkin
tidak sedetail buatan Pixar, bahkan mungkin ada unsur kesengajaan membuat
gambarnya agak blur atau semacamnya, tapi justru di situlah letak keunikannya. Ditambah
lagi muncul kotak text seperti di komik yang menggambarkan pemikiran para tokoh
dan efek-efek seperti ‘kapoww’, ‘AAAAA’ dan sejenisnya, seolah-olah membuat
kita sedang menonton komik yang bergerak. Kita juga akan dimanjakan oleh visual
yang ditampilkan. Warna, desain, dan apapun itu namanya membuat kita merasa
sayang untuk sekadar melewatkan bawang sedetik saja. Indah sekali.
Ketika Marvel
terlibat, maka bersiaplah dengan lelucon-lelucon yang bisa membuat kita tertawa
lepas atau sekadar tersenyum. Berkali-kali guyonan dilontarkan dan menurut saya
cukup berhasil. Meskipun, dalam beberapa kesempatan saya merasa agak kurang
meledak. Mungkin saya telah menonton cuplikan adegan tersebut atau memang
komedinya bukan selera saya. Entah. Tapi, percayalah, humornya menyenangkan.
Satu lagi hal
yang membuat saya sangat menyukai film ini. Musiknya. Sulit untuk mencegah kaki
ikut menghentak atau menganggukan kepala mengikuti tiap beat-nya. Meskipun, terus terang, saya kurang familiar dengan
lagu-lagunya, sebenarnya banyak hal yang kurang familiar yang saya jumpai di
film ini, namun justru itulah titik menyenangkannya. Tidak ada ekspektasi, ada elemen kejutan. Sesuatu yang baru.
Saya bukan
penggemar fanatik karakter Spider-Man, tapi sepanjang menonton film ini, saya
menjumpai beberapa referensi atau easter
eggs. Seperti tarian Spider-Man, cameo, gambar di credit title, hingga
post-credit scene. Bisa jadi ketika orang-orang yang suka membaca komiknya
mendapatkan lebih banyak referensi daripada yang saya dapatkan. Rasanya melegakan
sekaligus menyenangkan ketika mengetahui ada makna terselubung atau referensi
dari adegan yang ditampilkan.
Tak heran jika
banyak orang menjadikan film ini sebagai film Spider-Man terbaik jika
dibandingkan dengan para pendahulunya. Petualangan yang menyenangkan, visual
yang memanjakan mata, musik keren, dan tak hanya satu, kita bisa melihat paling
tidak tujuh Spider-Man dalam satu film. Tontonlah.
Oya, ada dua
credit scene. Yang terakhir keren:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar