Laman

Rabu, 24 Oktober 2018

[Ulasan Film] Tengkorak (2018)



Judul: Tengkorak
Sutradara : Yusron Fuadi
Penulis: Yusron Fuadi
Penyunting: Yusron Fuadi
Pemain: Eka Nusa Pertiwi, Yusron Fuadi, Guh S. Man dan lain-lain
Genre: fiksi ilmiah, drama, komedi

Nilai: 9/10

Sinopsis
Umat manusia telah menemukan fosil tengkorak setinggi 1.850 meter yang telah berumur 170 ribu tahundi pulau Jawa ketika terjadi gempa pada tahun 2006. Hal ini membuat bingung pemuka agama dan para ilmuan atas temuan ini. Begitu pula dunia sedang berdebat antara melakukan penelitian atas temuan fosil tengkorak tersebut atau menyembunyikannya dari masyarakat atas dasar kemanusiaan. Seorang gadis bertekad mengungkap misteri dibalik penenemuan fosil tengkorak tersebut dan memberitakannya ke dunia. 

Namun jika kita ternyata bukanlah makhluk paling sempurna seperti yang kita percayai, apakah kita mau tahu mengenainya?
Sumber: tengkorak.com


Ulasan
Perlu ditekankan bahwa film ini adalah film independen yang tak dinaungi oleh rumah produksi yang besar. Berbicara mengenai fakta tersebut, tentu berkaitan erat dengan pendanaan. Sebagai informasi saja, film ini memakan waktu sampai 2-3 tahun dalam proses produksi hingga dapat kita saksikan di bioskop, bukan karena memang direncanakan demikian, namun karena terkendala masalah dana. Tentu hal tersebut menjawab pertanyaan kenapa nama Yusfon Fuadi mengisi di setiap lini penting dalam produksi. Selain memang ia yang multitalenta, bisa jadi hal tersebut dilakukan untuk memangkas biaya produksi. Namun, hal tersebut tak menyurutkan ide ambisius nan gila milik Yusron Fuadi untuk menyajikan tontonan yang bermutu dan menjadi pembaharuan dalam industri perfilman Indonesia. 

Sebab, banyak aspek dari film ini yang jarang kita temui di film-film Indonesia pada umumnya, entah karena tidak mampu atau memang sengaja dihindari oleh kebanyakan sineas tanah air. Mulai dari genre. Fiksi ilmiah. Saya tidak tahu, ini masalah ingatan saya atau memang kenyataannya demikian, bahwa untuk genre tersebut sangat langka di industri perfilman kita dan kalaupun pernah ada mungkin idenya  tidak segila film ini.

Jika mengambil genre fiksi ilmiah maka tak jauh-jauh dengan teknologi cgi atau vfx. Dan, untuk ukuran film independen, saya sangat mengapresiasi pada hasil yang ditunjukkan. Cukup halus dan sangat bagus. Bahkan ada beberapa adegan yang sebelumnya tidak saya sangka dikerjakan melalui komputer dan baru saya sadari ketika menonton proses pembuatannya. Keren.

Selain itu, untuk scoring, sangat membantu untuk mendukung tensi adegan. Namun, ada beberapa waktu yang mana penggunaanya terasa aneh di telinga saya. Entah kenapa. Jadi agak kurang konsisten begitu. Di adegan ini keren, di adegan lain kok biasa saja. Sinematografi yang ditunjukkan pun cukup memanjakan mata, meskipun tak seluruh gambar yang diambil. Ada yang bikin takjub, ada yang yah bolehlah. 

Meski mengangkat tema yang cukup serius, film ini juga dibalut dengan komedi. Walau tak semuanya tepat sasaran, beberapa kali saya dibuat tertawa oleh celetukan-celetukan tokoh. Oya, banyak dialog berbahasa jawa sepanjang film. Tapi jangan risau, ada terjemahan kok. Namun saya rasa orang jawa pasti lebih mudah terpancing sebab memiliki referensi yang mirip. 

Nama-nama yang terlibat di dalam film ini mungkin terdengar asing di telinga, namun hal tersebut bukan masalah yang besar. Karena saya tahu mereka terpilih atas alasan tertentu. Meski memang perlu diakui bahwa di beberapa kesempatan akting mereka terasa kaku. Dan penampilan yang mencuri perhatian saya adalah pemeran Mas Yos, yang mana diperankan oleh Yusron Fuadi, si sutradara. Karakter yang unik dengan pembawaan yang keren.

Yusron Fuadi sebagai Mas Yos. sumber: tengkorak.com

Pengenalan di awal dilakukan dengan cara yang cukup menarik, meskipun berpotensi membuat penonton kebingungan perihal latar belakang tokoh-tokoh utamannya dan ketika berada di pertengahan film rasanya agak membosankan dan bertele-tele. Ada beberapa adegan yang menurut saya kalau dihilangkan pun sama sekali tidak berpengaruh pada keutuhan cerita. Misal, adegan ibu-ibu yang mencari suaminya. Sampai film selesai tidak dijelaskan sebagai siapa suaminya dan perannya apa. Sebenarnya saya menangkap pesan yang ingin disampaikan, yakni memberitahukan kondisi warga yang hendak mengungsi, tapi setelah itu ada adegan lagi, reporter yang sedang melakukan pemberitaan, dan intinya sama: menjelaskan keadaan masyarakat. Jadi terkesan mubadzir. Ada juga beberapa lagi sebenarnya, tapi cukup satu saja.

Yang cukup disayangkan adalah cerita yang terlalu banyak bercabang, jadi penonton dibuat kebingungan untuk menghubungan setiap sub-plot. Mulai dari pandangan pemerintah, tentang tim Kamboja, dan hubungan Mas Yos dengan Ani. Ya, memang bagus untuk pengembangan karakter, namun ya itu tadi, berpotensi membuat bingung penonton. 

Dan, ini yang paling mengganjal pikiran saya, adalah motivasi dari tokoh untuk melakukan sesuatu. Terkadang saya tidak paham kenapa dia berbuat begitu, atas dasar apa, dan kenapa di waktu lain sifat mereka berubah. Contohnya, Ani yang terlihat oke-oke saja dibawa orang yang baru ia kenal tanpa menunjukkan sikap khawatir. Kemudian perubahan perasaan Ani yang tiba-tiba, hari ini suatu hal dianggap santai-santai saja, besoknya jadi masalah. 

Ketika memasuki sepertiga terakhir durasi film, segala tanda tanya mulai terkuak. Dan kerennya, menurut saya, penonton tidak langsung diberikan penjelasan secara terang-terangan melalui kata-kata tokoh tentang maksud dari ceritanya, tapi Yusron Fuadi ingin mengajak penonton untuk berpikir dan menentukan sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Petunjuk-petunjuk tersebar sepanjang durasi dan kita harus menyusunnya sendiri atas dasar yang logis menjadi cerita yang dapat dipahami. Dengan begitu, selesai menonton orang-orang bisa jadi memiliki interpretasi yang berbeda. Dan itu keren.

Dan ending-nya, wah, KEREN SANGAT. Saya sampai menyumpah serapah mengetahui bagaimana ceritanya berakhir. Mind-blowing. Dan ini adalah salah satu bagian film yang menjadi sasaran empuk untuk didiskusikan. Sebab, masing-masing orang bisa memiliki interpretasi yang berbeda. Dan salah satu ukuran film yang bagus, menurut saya, adalah setelah menonton filmnya, otak kita masih bekerja untuk mencerna ceritanya dan menemukan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi dan jika dijadikan bahan diskusi maka akan terjadi perdebatan alot yang memakan waktu. Dan ending Tengkorak memenuhi itu.

Sialan, masih kebayang-bayang sampai sekarang dan mungkin butuh waktu yang lama untuk menghilangkannya. Pengen sungkem sama Mas Yusron atas kegilaan dan keberanian dalam membuat ending Tengkorak. Untuk ide dan ending saya sangat kagum padanya. GOKS.

Maka, teman-teman, jika kalian ingin menonton film yang sangat mengesankan dan gila, saya sangat menyarankan untuk SEGERA pergi ke bioskop untuk menyaksikan sendiri kegilaan Mas Yusron. Pastikan dalam kondisi yang bugar dan pikiran kalian telah terbuka untuk menerima proyeksi imajinasi cerita Mas Yusron, karena isu yang diangkat dalam film ini cukup kontroversial dan berani. Sudah, TONTONLAH SEGERA!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar