Judul: Tengkorak
Sutradara :
Yusron Fuadi
Penulis: Yusron
Fuadi
Penyunting:
Yusron Fuadi
Pemain: Eka Nusa
Pertiwi, Yusron Fuadi, Guh S. Man dan lain-lain
Genre: fiksi
ilmiah, drama, komedi
Nilai: 9/10
Sinopsis
Umat manusia
telah menemukan fosil tengkorak setinggi 1.850 meter yang telah berumur 170
ribu tahundi pulau Jawa ketika terjadi gempa pada tahun 2006. Hal ini membuat
bingung pemuka agama dan para ilmuan atas temuan ini. Begitu pula dunia sedang
berdebat antara melakukan penelitian atas temuan fosil tengkorak tersebut atau
menyembunyikannya dari masyarakat atas dasar kemanusiaan. Seorang gadis
bertekad mengungkap misteri dibalik penenemuan fosil tengkorak tersebut dan
memberitakannya ke dunia.
Namun jika kita
ternyata bukanlah makhluk paling sempurna seperti yang kita percayai, apakah
kita mau tahu mengenainya?
Sumber:
tengkorak.com
Ulasan
Perlu ditekankan
bahwa film ini adalah film independen yang tak dinaungi oleh rumah produksi
yang besar. Berbicara mengenai fakta tersebut, tentu berkaitan erat dengan
pendanaan. Sebagai informasi saja, film ini memakan waktu sampai 2-3 tahun
dalam proses produksi hingga dapat kita saksikan di bioskop, bukan karena
memang direncanakan demikian, namun karena terkendala masalah dana. Tentu hal
tersebut menjawab pertanyaan kenapa nama Yusfon Fuadi mengisi di setiap lini
penting dalam produksi. Selain memang ia yang multitalenta, bisa jadi hal
tersebut dilakukan untuk memangkas biaya produksi. Namun, hal tersebut tak
menyurutkan ide ambisius nan gila milik Yusron Fuadi untuk menyajikan tontonan
yang bermutu dan menjadi pembaharuan dalam industri perfilman Indonesia.
Sebab, banyak
aspek dari film ini yang jarang kita temui di film-film Indonesia pada umumnya,
entah karena tidak mampu atau memang sengaja dihindari oleh kebanyakan sineas
tanah air. Mulai dari genre. Fiksi ilmiah. Saya tidak tahu, ini masalah ingatan
saya atau memang kenyataannya demikian, bahwa untuk genre tersebut sangat
langka di industri perfilman kita dan kalaupun pernah ada mungkin idenya tidak segila film ini.
Jika mengambil
genre fiksi ilmiah maka tak jauh-jauh dengan teknologi cgi atau vfx. Dan, untuk
ukuran film independen, saya sangat mengapresiasi pada hasil yang ditunjukkan. Cukup
halus dan sangat bagus. Bahkan ada beberapa adegan yang sebelumnya tidak saya
sangka dikerjakan melalui komputer dan baru saya sadari ketika menonton proses
pembuatannya. Keren.
Selain itu,
untuk scoring, sangat membantu untuk
mendukung tensi adegan. Namun, ada beberapa waktu yang mana penggunaanya terasa
aneh di telinga saya. Entah kenapa. Jadi agak kurang konsisten begitu. Di adegan
ini keren, di adegan lain kok biasa saja. Sinematografi yang ditunjukkan pun
cukup memanjakan mata, meskipun tak seluruh gambar yang diambil. Ada yang bikin
takjub, ada yang yah bolehlah.
Meski mengangkat
tema yang cukup serius, film ini juga dibalut dengan komedi. Walau tak semuanya
tepat sasaran, beberapa kali saya dibuat tertawa oleh celetukan-celetukan
tokoh. Oya, banyak dialog berbahasa jawa sepanjang film. Tapi jangan risau, ada
terjemahan kok. Namun saya rasa orang jawa pasti lebih mudah terpancing sebab
memiliki referensi yang mirip.
Nama-nama yang
terlibat di dalam film ini mungkin terdengar asing di telinga, namun hal
tersebut bukan masalah yang besar. Karena saya tahu mereka terpilih atas alasan
tertentu. Meski memang perlu diakui bahwa di beberapa kesempatan akting mereka
terasa kaku. Dan penampilan yang mencuri perhatian saya adalah pemeran Mas Yos,
yang mana diperankan oleh Yusron Fuadi, si sutradara. Karakter yang unik dengan
pembawaan yang keren.
![]() |
| Yusron Fuadi sebagai Mas Yos. sumber: tengkorak.com |
Pengenalan di
awal dilakukan dengan cara yang cukup menarik, meskipun berpotensi membuat
penonton kebingungan perihal latar belakang tokoh-tokoh utamannya dan ketika
berada di pertengahan film rasanya agak membosankan dan bertele-tele. Ada beberapa
adegan yang menurut saya kalau dihilangkan pun sama sekali tidak berpengaruh pada
keutuhan cerita. Misal, adegan ibu-ibu yang mencari suaminya. Sampai film
selesai tidak dijelaskan sebagai siapa suaminya dan perannya apa. Sebenarnya saya
menangkap pesan yang ingin disampaikan, yakni memberitahukan kondisi warga yang
hendak mengungsi, tapi setelah itu ada adegan lagi, reporter yang sedang
melakukan pemberitaan, dan intinya sama: menjelaskan keadaan masyarakat. Jadi terkesan
mubadzir. Ada juga beberapa lagi sebenarnya, tapi cukup satu saja.
Yang cukup
disayangkan adalah cerita yang terlalu banyak bercabang, jadi penonton dibuat
kebingungan untuk menghubungan setiap sub-plot. Mulai dari pandangan
pemerintah, tentang tim Kamboja, dan hubungan Mas Yos dengan Ani. Ya, memang
bagus untuk pengembangan karakter, namun ya itu tadi, berpotensi membuat
bingung penonton.
Dan, ini yang
paling mengganjal pikiran saya, adalah motivasi dari tokoh untuk melakukan
sesuatu. Terkadang saya tidak paham kenapa dia berbuat begitu, atas dasar apa,
dan kenapa di waktu lain sifat mereka berubah. Contohnya, Ani yang terlihat
oke-oke saja dibawa orang yang baru ia kenal tanpa menunjukkan sikap khawatir. Kemudian
perubahan perasaan Ani yang tiba-tiba, hari ini suatu hal dianggap santai-santai
saja, besoknya jadi masalah.
Ketika memasuki
sepertiga terakhir durasi film, segala tanda tanya mulai terkuak. Dan kerennya,
menurut saya, penonton tidak langsung diberikan penjelasan secara
terang-terangan melalui kata-kata tokoh tentang maksud dari ceritanya, tapi
Yusron Fuadi ingin mengajak penonton untuk berpikir dan menentukan sendiri apa
yang sebenarnya terjadi. Petunjuk-petunjuk tersebar sepanjang durasi dan kita
harus menyusunnya sendiri atas dasar yang logis menjadi cerita yang dapat
dipahami. Dengan begitu, selesai menonton orang-orang bisa jadi memiliki
interpretasi yang berbeda. Dan itu keren.
Dan ending-nya,
wah, KEREN SANGAT. Saya sampai menyumpah serapah mengetahui bagaimana ceritanya
berakhir. Mind-blowing. Dan ini adalah salah satu bagian film yang menjadi
sasaran empuk untuk didiskusikan. Sebab, masing-masing orang bisa memiliki
interpretasi yang berbeda. Dan salah satu ukuran film yang bagus, menurut saya,
adalah setelah menonton filmnya, otak kita masih bekerja untuk mencerna
ceritanya dan menemukan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi dan jika
dijadikan bahan diskusi maka akan terjadi perdebatan alot yang memakan waktu. Dan
ending Tengkorak memenuhi itu.
Sialan, masih kebayang-bayang
sampai sekarang dan mungkin butuh waktu yang lama untuk menghilangkannya.
Pengen sungkem sama Mas Yusron atas kegilaan dan keberanian dalam membuat ending
Tengkorak. Untuk ide dan ending saya sangat kagum padanya. GOKS.
Maka,
teman-teman, jika kalian ingin menonton film yang sangat mengesankan dan gila,
saya sangat menyarankan untuk SEGERA pergi ke bioskop untuk menyaksikan sendiri
kegilaan Mas Yusron. Pastikan dalam kondisi yang bugar dan pikiran kalian telah
terbuka untuk menerima proyeksi imajinasi cerita Mas Yusron, karena isu yang
diangkat dalam film ini cukup kontroversial dan berani. Sudah, TONTONLAH
SEGERA!




Tidak ada komentar:
Posting Komentar