Judul: Aruna dan
Lidahnya
Sutradara: Edwin
Penulis Skenario:
Titien Wattimera
Musik: Ken Jenie
Sinematografi:
Amalia T. S.
Pemain: Dian
Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Oka Antara, Hannah Al Rasyid
Genre: Drama,
romance, culinary-trip
Nilai: 8.5
Premis
Aruna ditugaskan
untuk menyelidiki kasus flu burung yang terjadi di beberapa kota di Indonesia. Dalam
kesempatan itu, ia dan Bono, teman baiknya—yang juga seorang koki, berencana memanfaatkannya
untuk kulineran, sebagai bentuk perealisasian rencana mereka yang terus-terusan
tertunda. Kemudian, selain masalah flu burung, muncullah deretan masalah lain,
seiring dengan masuknya tokoh-tokoh lain—Farish dan Nad dan tentu saja, lidah
Aruna.
Ulasan
Tanpa bermaksud
melebih-lebihkan, Edwin, si sutradara, bukan saya, adalah seorang genius. Di tangan
dan pemikirannya, sebuah film benar-benar terasa menyenangkan untuk diikuti,
meski cerita yang disuguhkan cukup kompleks bagi sebagian besar orang. Selain itu,
cara penyajiannya pun memiliki ciri khas, bahkan dari adegan pertama sudah
terasa ini bukan sembarang film kebanyakan dan jika jeli seharusnya hanya ada
satu nama yang bisa membuat adegan seperti itu: Edwin.
Selain Aruna dan
Lidahnya, setahu saya, film Indonesia lain yang bertema serupa adalah Tabula
Rasa—saya tidak bisa membandingkan keduanya, karena saya belum menonton Tabula
Rasa. Padahal, Indonesia seolah surga bagi pecinta kuliner. Edwin memanfaatkan
dengan baik celah itu untuk menyajikan variasi tontonan untuk penonton
Indonesia. Dan ia berhasil.
Saya belum
membaca bukunya yang ditulis oleh Laksmi Pamuntjak, jadi masalah cerita, saya
tidak tahu dan tidak begitu ingin tahu karena bisa merusak kesenangan ketika
menonton. Dan saya enggan berekspektasi terlalu tinggi, meskipun itu adalah hal
yang sulit ketika melihat nama sutradara dan jejeran nama pemainnya.
Salut dengan
penulis skenario, Titien Wattimera, yang mampu mengemas cerita yang cukup
kompleks menjadi sebuah sajian yang ramah tanpa mengurangi esensi dan pesan
utama cerita. Mengalir dengan baik. Percakapan-percakapan yang terjadi ketika
makan, begitu natural—karena saya, terus terang, juga sering melakukannya. Juga,
humor yang diberikan dalam takaran cukup bagi saya, meskipun beberapa di antaranya
meleset.
Jajaran pemain
pun berperan dengan apik. Aruna (Dian sastro) yang menyenangkan dan seringkali
berubah-ubah perasaan, Bono (Nicsap) yang senang berkelakar—jadi gambaran
Rangga yang ketus, bijak, dan dingin, tidak muncul di sini, kerenlah bisa menghilangkan
karakter di masa lalu, lalu Farish (Oka Antara) yang dingin dan penuh misteri,
dan Nad (Hannah Al Rasyid) yang pecicilan. Semuanya keren, apalagi Dian Sastro
dan Nicsap yang berhasil melepaskan embe-embel Cinta-Rangga, dan menjadi
sahabat yang punya pembawaan yang baik.
Salah satu poin
terpenting film ini adalah penyajian gambarnya, baik secara umum dan khusus.
Sinematografi terlihat alami, sederhana, dan sewajarnya. Selain itu, yang
khusus, adalah bagaimana cara menunjukkan berbagai macam makanan menjadi sebuah
sajian yang menggoda mata. Berkali-kali saya menelan ludah ketika disuguhi
berbagai makanan khas nusantara. Bahkan Nasi Goreng pun terlihat begitu
menggiurkan.
Peran penata
musik di sini juga tak sembarangan. Beberapa kali telinga saya menyadari bahwa
pemilihan lagu dan scoring memiliki arti tersendiri yang mendukung
adegan-adegan tertentu. Keren.
Dibandingkan
dengan karya Edwin sebelumnya, Posesif, terus terang saya lebih menyukai
Posesif. Meskipun punya fokus cerita yang berbeda, saya suka saja dengan
posesif. Salah satu perbedaan yang cukup jelas adalah di Aruna dan Lidahnya,
Edwin memberikan porsi yang cukup banyak pada dialog antar tokoh. Tidak apa-apa
memang. Keduanya luar biasa bagus.
Edwin adalah
harapan perfilman Indonesia, maka salah satu cara untuk mendukungnya untuk
terus berkarya adalah mari nikmati filmnya, beri kritik, agar kelak bisa
membuat film yang lebih bagus. Film seperti ini harus didukung. Ayo tonton
Aruna dan Lidahnya di bioskop mulai tulisan ini dipublikasikan.
Nama Edwin
memang jaminan kualitas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar