Laman

Kamis, 27 September 2018

[Ulasan Film] Aruna dan Lidahnya (2018)



Judul: Aruna dan Lidahnya
Sutradara: Edwin
Penulis Skenario: Titien Wattimera
Musik: Ken Jenie
Sinematografi: Amalia T. S.
Pemain: Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Oka Antara, Hannah Al Rasyid
Genre: Drama, romance, culinary-trip

Nilai: 8.5

Premis
Aruna ditugaskan untuk menyelidiki kasus flu burung yang terjadi di beberapa kota di Indonesia. Dalam kesempatan itu, ia dan Bono, teman baiknya—yang juga seorang koki, berencana memanfaatkannya untuk kulineran, sebagai bentuk perealisasian rencana mereka yang terus-terusan tertunda. Kemudian, selain masalah flu burung, muncullah deretan masalah lain, seiring dengan masuknya tokoh-tokoh lain—Farish dan Nad dan tentu saja, lidah Aruna. 


Ulasan
Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, Edwin, si sutradara, bukan saya, adalah seorang genius. Di tangan dan pemikirannya, sebuah film benar-benar terasa menyenangkan untuk diikuti, meski cerita yang disuguhkan cukup kompleks bagi sebagian besar orang. Selain itu, cara penyajiannya pun memiliki ciri khas, bahkan dari adegan pertama sudah terasa ini bukan sembarang film kebanyakan dan jika jeli seharusnya hanya ada satu nama yang bisa membuat adegan seperti itu: Edwin.

Selain Aruna dan Lidahnya, setahu saya, film Indonesia lain yang bertema serupa adalah Tabula Rasa—saya tidak bisa membandingkan keduanya, karena saya belum menonton Tabula Rasa. Padahal, Indonesia seolah surga bagi pecinta kuliner. Edwin memanfaatkan dengan baik celah itu untuk menyajikan variasi tontonan untuk penonton Indonesia. Dan ia berhasil.

Saya belum membaca bukunya yang ditulis oleh Laksmi Pamuntjak, jadi masalah cerita, saya tidak tahu dan tidak begitu ingin tahu karena bisa merusak kesenangan ketika menonton. Dan saya enggan berekspektasi terlalu tinggi, meskipun itu adalah hal yang sulit ketika melihat nama sutradara dan jejeran nama pemainnya. 

Salut dengan penulis skenario, Titien Wattimera, yang mampu mengemas cerita yang cukup kompleks menjadi sebuah sajian yang ramah tanpa mengurangi esensi dan pesan utama cerita. Mengalir dengan baik. Percakapan-percakapan yang terjadi ketika makan, begitu natural—karena saya, terus terang, juga sering melakukannya. Juga, humor yang diberikan dalam takaran cukup bagi saya, meskipun beberapa di antaranya meleset.

Jajaran pemain pun berperan dengan apik. Aruna (Dian sastro) yang menyenangkan dan seringkali berubah-ubah perasaan, Bono (Nicsap) yang senang berkelakar—jadi gambaran Rangga yang ketus, bijak, dan dingin, tidak muncul di sini, kerenlah bisa menghilangkan karakter di masa lalu, lalu Farish (Oka Antara) yang dingin dan penuh misteri, dan Nad (Hannah Al Rasyid) yang pecicilan. Semuanya keren, apalagi Dian Sastro dan Nicsap yang berhasil melepaskan embe-embel Cinta-Rangga, dan menjadi sahabat yang punya pembawaan yang baik.

Salah satu poin terpenting film ini adalah penyajian gambarnya, baik secara umum dan khusus. Sinematografi terlihat alami, sederhana, dan sewajarnya. Selain itu, yang khusus, adalah bagaimana cara menunjukkan berbagai macam makanan menjadi sebuah sajian yang menggoda mata. Berkali-kali saya menelan ludah ketika disuguhi berbagai makanan khas nusantara. Bahkan Nasi Goreng pun terlihat begitu menggiurkan.

Peran penata musik di sini juga tak sembarangan. Beberapa kali telinga saya menyadari bahwa pemilihan lagu dan scoring memiliki arti tersendiri yang mendukung adegan-adegan tertentu. Keren.
Dibandingkan dengan karya Edwin sebelumnya, Posesif, terus terang saya lebih menyukai Posesif. Meskipun punya fokus cerita yang berbeda, saya suka saja dengan posesif. Salah satu perbedaan yang cukup jelas adalah di Aruna dan Lidahnya, Edwin memberikan porsi yang cukup banyak pada dialog antar tokoh. Tidak apa-apa memang. Keduanya luar biasa bagus. 

Edwin adalah harapan perfilman Indonesia, maka salah satu cara untuk mendukungnya untuk terus berkarya adalah mari nikmati filmnya, beri kritik, agar kelak bisa membuat film yang lebih bagus. Film seperti ini harus didukung. Ayo tonton Aruna dan Lidahnya di bioskop mulai tulisan ini dipublikasikan. 

Nama Edwin memang jaminan kualitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar