Laman

Kamis, 29 Agustus 2019

[Ulasan Film] Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot (2019)




Sutradara: Joko Anwar

Penulis: Joko Anwar

Pemain: Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Ario Bayu, Tara Basro, Rio Dewanto, Lukman Sardi, Muzakki Ramdhan

Sinematografi: Ical Tanjung

Musik: Bembi Gusti, Tony Merle, dan Aghi Narottama

Genre: Laga, kriminal, drama

Indonesia punya banyak sekali cerita legenda, pahlawan, mitos, dan lain-lain, baik bermuara dari mulut ke mulut atau berbentuk imajinasi cerita komik, yang sayang sekali jika tidak dimanfaatkan menjadi sebuah sajian yang luar biasa dalam bentuk film. Kemudian, melihat kemajuan industry perfilman Indonesia dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, angan-angan tentang jagat sinema layaknya milik Marvel adalah tinggal menunggu waktu saja, menurut saya. Maka, sewaktu ada kabar Indonesia akan mempunyai jagat sinema pahlawan sendiri, diawali oleh Gundala, saya senang bukan main. Ekspektasi pun menjulang. 


Ada beberapa alasan kenapa saya untuk memutuskan menonton film ini: Joko Anwar, film pahlawan adaptasi komik, pembuka Jagat Sinema Bumilangit dan Ical Tanjung. Deretan alasan itu pula yang membuat saya menaruh harapan besar pada Gundala. Meski saya tidak ikut campur dalam urusan apapun pembuatannya, saya ikut cemas mengenai bagaimana hasilnya kelak. Sialnya, semenjak diumumkan pemeran, lalu teaser poster, teaser trailer, lalu trailer, ekspektasi saya kian melonjak dan rasanya ingin menculik Bang Jokan untuk membiarkan saya menonton filmnya terlebih dahulu. Namun, niat tersebut saya urungkan sebab penculikan adalah salah satu tindakan kriminal di negara ini. jiwa patriot saya menolak keras.

Kemudian, hari ini, 29 Agustus 2019, saya telah menonton film pembuka Jagat Sinema Bumilangit ini di hari pertama penayangannya dan……….GOKS. Sungkem kepada seluruh jajaran kru yang terlibat dalam film Gundala.

Saya bingung memulai dari mana.


Oke. Pertama-tama, bagaimanapun juga, film Gundala merupakan sebuah adaptasi, oleh sebab itu ada beberapa bagian yang tidak sesuai dengan karakter ciptaan Harya Suraminata dalam versi komik. Seperti pekerjaan Sancaka dan kostum awal milik Gundala. Apakah itu buruk? Tidak juga. Sebab, dengan begitu, bermacam-macam kemungkinan bisa saja terjadi—yang barangkali tidak pernah kita ketahui dalam versi komik. Terlebih Gundala nantinya akan bergabung dengan pahlawan-pahlawan super lainnya dalam sebuah jagat sinema yang besar. Perubahan-perubahan tersebut juga pasti telah dipikirkan matang-matang sebagai amunisi untuk merajut hubungan dengan film-film selanjutnya.
Sancara tinggal di jalanan sejak ditinggalkan kedua orang tuanya. Hidup penuh kemalangan, ia bertahan hidup dengan cara hanya mempedulikan diir sendiri. Ketika kondisi negeri memburuk dan ketidakdilan memenuhi negeri, ia harus memutuskan untuk memilih hidup dengan caranya yang dulu—hanya menjaga diri sendiri atau bangkit menjadi patriot.

Sebagaimana film pahlawan super pada umumnya, apalagi dibebani sebagai pembuka jagat sinema, Gundala masih berkutat pada latar belakang karakter dan bagaimana ia menjadi seorang patriot. Sebuah fondasi, kalau saya boleh bilang. Maka, dengan durasi kurang lebih 2 jam, hampir separuhnya dibuat untuk memperkenalkan sosok Sancaka pada penonton. Lika-liku hidupnya. Meski begitu, saya pribadi, tidak bosan mengikuti penceritaan Bang Jokan. Sebab, dalam proses pengenalan tersebut, terselip beberapa adegan laga, humor, dan easter eggs—baik yang merujuk pada Jagat Sinema Bumilangit ke depannya (BANYAK SEKALI) atau menyenggol film-film terdahulu Bang Jokan atau yang beberapa orang menyebutnya JANCU alias Joko Anwar Cinematic Universe (Setidaknya saya berhasil menangkap dua referensi).

Hawa film Gundala tidak seperti film superhero yang memasukkan ledakan di segala kondisi atau campur tangan CGI dalam setiap adegan-adegannya. Ia membumi dengan sedikit CGI dan cenderung lebih memilih memperkuat cerita, seperti Batman Begins. Namun, menurut saya, masih ada lubang di beberapa bagian yang jika dipikir-pikir ulang agak mengganjal logika normal, namun masih bisa dimaklumi dengan catatan ini adalah sebuah film. Karena itu, terasa ada sedikit kesan ketergesaan penceritaan. Kemudian inkonsistensi dialog, yang kadang baku, kadang tidak. Minor memang, tapi cukup mengganggu saya. Jika dibagi menjadi tiga bagian, 1/3 awal film ini sangat bagus alurnya. 2/3 agak gimana gitu. 3/3 agak tertolong tapi masih kurang. Tapi, tetap keren karena seringkali kita tidak tahu kemana cerita berkelok dan memberi kejutan.

Adegan laga awalnya keren. Namun, lama-kelamaan malah cenderung membosankan. Entah kenapa, mungkin ya terlalu banyak dan kurang mengena. 

Seluruh jajaran aktor dan aktris tampil apik membawakan karakter masing-masing. Bang Jokan berhasil memberi ‘identitas’ bagi setiap karakternya sehingga meskipun hanya sepintas lewat, cukup meninggalkan kesan. Nama-nama seperti Abimana, Tara Basro, Muzakki Ramdhan, Ario Bayu, Lukman Sardi, dan Bront Palarae, juga tidak diragukan lagi penampilannya. Namun, bukannya Sancaka/Gundala, saya justu menyukai karakter Pengkor yang diperankan oleh Bront. Kesuraman masa lalu dan kekejiannya terasa bahkan hanya oleh tatatan mata. Gila. Apresiasi.

Teknis lain seperti sinematografi dan scoring juga turut ambil bagian dalam membuat film ini digarap dengan niat yang utuh. Ical Tanjung, yang sudah beberapa kali bekerja sama dengan Bang Jokan, tetap dalam kualitas yang sama, menjaga setiap frame terlihat begitu keren dan sangat mendukung adegan. Lalu kolaborasi Bembi Gusti, Tony Merle, dan Aghi Narottama, juga berhasil membuat scoring yang megah dan menunjang tensi.

Salah satu kebiasaan Bang Jokan yang saya sukai adalah menyisipkan foreshadow dan easter eggs. Saya yang hanya menonton beberapa filmnya ditambah banyak membaca teori-teori dari Bang Djay dan Sinemager di twitter, cukup dibuat ‘wahhhhhh itu kan’ beberapa kali di sepanjang durasi. Nama Awang, adegan lari Sancaka waktu kecil, aksara Jawa ketika Ghazul masuk museum, nama Teddy, lalu lagu yang diputar saat headset Teddy dibetulkan, pemilihan nama tempat Tenggara, dan banyak lagi memiliki makna yang jauh dan meleegakan ketika saya memahaminya. Gokslah Bang Jokan ini. Salut. Sungkem.

Sebagai pembua sebuah jagat sinema yang besar, Gundala berhasil meletakkan fondasi yang cukup kokoh untuk film-film berikutnya. Menskipun masih terdapat celah di beberapa bagian. Tapi, percayalah, Gundala adalah sejarah yang harus dibanggakan. Saya sangat bersyukur bisa menyaksikannya secara langsung dan semoga diberi umur panjang untuk mengikuti rentetan Jagat Sinema Bumilangit selanjutnya. Bangga!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar