Sutradara: Joko
Anwar
Penulis: Joko
Anwar
Pemain: Abimana
Aryasatya, Bront Palarae, Ario Bayu, Tara Basro, Rio Dewanto, Lukman Sardi,
Muzakki Ramdhan
Sinematografi:
Ical Tanjung
Musik: Bembi
Gusti, Tony Merle, dan Aghi Narottama
Genre: Laga,
kriminal, drama
Indonesia punya
banyak sekali cerita legenda, pahlawan, mitos, dan lain-lain, baik bermuara
dari mulut ke mulut atau berbentuk imajinasi cerita komik, yang sayang sekali
jika tidak dimanfaatkan menjadi sebuah sajian yang luar biasa dalam bentuk
film. Kemudian, melihat kemajuan industry perfilman Indonesia dalam kurun waktu
beberapa tahun terakhir, angan-angan tentang jagat sinema layaknya milik Marvel
adalah tinggal menunggu waktu saja, menurut saya. Maka, sewaktu ada kabar
Indonesia akan mempunyai jagat sinema pahlawan sendiri, diawali oleh Gundala,
saya senang bukan main. Ekspektasi pun menjulang.
Ada beberapa
alasan kenapa saya untuk memutuskan menonton film ini: Joko Anwar, film
pahlawan adaptasi komik, pembuka Jagat Sinema Bumilangit dan Ical Tanjung. Deretan
alasan itu pula yang membuat saya menaruh harapan besar pada Gundala. Meski
saya tidak ikut campur dalam urusan apapun pembuatannya, saya ikut cemas
mengenai bagaimana hasilnya kelak. Sialnya, semenjak diumumkan pemeran, lalu
teaser poster, teaser trailer, lalu trailer, ekspektasi saya kian melonjak dan
rasanya ingin menculik Bang Jokan untuk membiarkan saya menonton filmnya
terlebih dahulu. Namun, niat tersebut saya urungkan sebab penculikan adalah
salah satu tindakan kriminal di negara ini. jiwa patriot saya menolak keras.
Kemudian, hari
ini, 29 Agustus 2019, saya telah menonton film pembuka Jagat Sinema Bumilangit
ini di hari pertama penayangannya dan……….GOKS. Sungkem kepada seluruh jajaran
kru yang terlibat dalam film Gundala.
Saya bingung
memulai dari mana.
Oke. Pertama-tama,
bagaimanapun juga, film Gundala merupakan sebuah adaptasi, oleh sebab itu ada
beberapa bagian yang tidak sesuai dengan karakter ciptaan Harya Suraminata
dalam versi komik. Seperti pekerjaan Sancaka dan kostum awal milik Gundala.
Apakah itu buruk? Tidak juga. Sebab, dengan begitu, bermacam-macam kemungkinan
bisa saja terjadi—yang barangkali tidak pernah kita ketahui dalam versi komik. Terlebih
Gundala nantinya akan bergabung dengan pahlawan-pahlawan super lainnya dalam
sebuah jagat sinema yang besar. Perubahan-perubahan tersebut juga pasti telah
dipikirkan matang-matang sebagai amunisi untuk merajut hubungan dengan
film-film selanjutnya.
Sancara tinggal
di jalanan sejak ditinggalkan kedua orang tuanya. Hidup penuh kemalangan, ia
bertahan hidup dengan cara hanya mempedulikan diir sendiri. Ketika kondisi
negeri memburuk dan ketidakdilan memenuhi negeri, ia harus memutuskan untuk
memilih hidup dengan caranya yang dulu—hanya menjaga diri sendiri atau bangkit
menjadi patriot.
Sebagaimana film
pahlawan super pada umumnya, apalagi dibebani sebagai pembuka jagat sinema,
Gundala masih berkutat pada latar belakang karakter dan bagaimana ia menjadi
seorang patriot. Sebuah fondasi, kalau saya boleh bilang. Maka, dengan durasi
kurang lebih 2 jam, hampir separuhnya dibuat untuk memperkenalkan sosok Sancaka
pada penonton. Lika-liku hidupnya. Meski begitu, saya pribadi, tidak bosan
mengikuti penceritaan Bang Jokan. Sebab, dalam proses pengenalan tersebut,
terselip beberapa adegan laga, humor, dan easter eggs—baik yang merujuk pada
Jagat Sinema Bumilangit ke depannya (BANYAK SEKALI) atau menyenggol film-film
terdahulu Bang Jokan atau yang beberapa orang menyebutnya JANCU alias Joko Anwar
Cinematic Universe (Setidaknya saya berhasil menangkap dua referensi).
Hawa film
Gundala tidak seperti film superhero yang memasukkan ledakan di segala kondisi
atau campur tangan CGI dalam setiap adegan-adegannya. Ia membumi dengan sedikit
CGI dan cenderung lebih memilih memperkuat cerita, seperti Batman Begins.
Namun, menurut saya, masih ada lubang di beberapa bagian yang jika
dipikir-pikir ulang agak mengganjal logika normal, namun masih bisa dimaklumi
dengan catatan ini adalah sebuah film. Karena itu, terasa ada sedikit kesan
ketergesaan penceritaan. Kemudian inkonsistensi dialog, yang kadang baku, kadang tidak. Minor memang, tapi cukup mengganggu saya. Jika dibagi menjadi tiga bagian, 1/3 awal film ini sangat bagus alurnya. 2/3 agak gimana gitu. 3/3 agak tertolong tapi masih kurang. Tapi, tetap keren karena seringkali kita tidak tahu
kemana cerita berkelok dan memberi kejutan.
Adegan laga awalnya keren. Namun, lama-kelamaan malah cenderung membosankan. Entah kenapa, mungkin ya terlalu banyak dan kurang mengena.
Adegan laga awalnya keren. Namun, lama-kelamaan malah cenderung membosankan. Entah kenapa, mungkin ya terlalu banyak dan kurang mengena.
Seluruh jajaran
aktor dan aktris tampil apik membawakan karakter masing-masing. Bang Jokan
berhasil memberi ‘identitas’ bagi setiap karakternya sehingga meskipun hanya
sepintas lewat, cukup meninggalkan kesan. Nama-nama seperti Abimana, Tara
Basro, Muzakki Ramdhan, Ario Bayu, Lukman Sardi, dan Bront Palarae, juga tidak
diragukan lagi penampilannya. Namun, bukannya Sancaka/Gundala, saya justu
menyukai karakter Pengkor yang diperankan oleh Bront. Kesuraman masa lalu dan
kekejiannya terasa bahkan hanya oleh tatatan mata. Gila. Apresiasi.
Teknis lain
seperti sinematografi dan scoring juga turut ambil bagian dalam membuat film
ini digarap dengan niat yang utuh. Ical Tanjung, yang sudah beberapa kali
bekerja sama dengan Bang Jokan, tetap dalam kualitas yang sama, menjaga setiap
frame terlihat begitu keren dan sangat mendukung adegan. Lalu kolaborasi Bembi
Gusti, Tony Merle, dan Aghi Narottama, juga berhasil membuat scoring yang megah
dan menunjang tensi.
Salah satu
kebiasaan Bang Jokan yang saya sukai adalah menyisipkan foreshadow dan easter
eggs. Saya yang hanya menonton beberapa filmnya ditambah banyak membaca
teori-teori dari Bang Djay dan Sinemager di twitter, cukup dibuat ‘wahhhhhh itu
kan’ beberapa kali di sepanjang durasi. Nama Awang, adegan lari Sancaka waktu
kecil, aksara Jawa ketika Ghazul masuk museum, nama Teddy, lalu lagu yang
diputar saat headset Teddy dibetulkan, pemilihan nama tempat Tenggara, dan
banyak lagi memiliki makna yang jauh dan meleegakan ketika saya memahaminya.
Gokslah Bang Jokan ini. Salut. Sungkem.
Sebagai pembua
sebuah jagat sinema yang besar, Gundala berhasil meletakkan fondasi yang cukup
kokoh untuk film-film berikutnya. Menskipun masih terdapat celah di beberapa
bagian. Tapi, percayalah, Gundala adalah sejarah yang harus dibanggakan. Saya sangat
bersyukur bisa menyaksikannya secara langsung dan semoga diberi umur panjang
untuk mengikuti rentetan Jagat Sinema Bumilangit selanjutnya. Bangga!




Tidak ada komentar:
Posting Komentar