Sutradara: Bene Dion Rajagukguk
Penulis: Bene Dion Rajagukguk, Nonny Boenawan
Pemain: Tatjana Saphira, Ge Pamungkas, Endy Arfian, Deva Mahendra, Asmara Abigail
Genre: komedi, horor, drama
Kamu pernah denger istilah Ghost Writer nggak? Nah, menurut
Wikipedia, Ghostwriter itu adalah orang yang disewa oleh orang lain untuk
menuliskan sesuatu, entah itu berita, esai, atau pidato, yang kemudian ketika
dipublikasikan tidak atas namanya, namun atas nama penyewanya. Jadi, semacam
penulis bayangan atau hantu gitu. Ada tapi nggak ada. Nah, menariknya, di film perdana
Bene Dion Rajagukguk, Ghost Writer (2019) ini, yang nulis bener-bener hantu!
Suatu hari, Naya (Tatjana Saphira), seorang penulis novel
terkenal, dan adiknya, Darto (Endy Arfian) pindah ke rumah kontrakan baru. Awalnya
nggak ada yang aneh dari rumah tersebut, namun setelah Naya nggak sengaja
nemuin sebuah buku diary di loteng dan membacanya, lantas mengolahnya menjadi
novel terbarunya, kejadian-kejadian aneh mulai bermunculan. Ternyata, buku
diary tersebut milik Galih (Ge Pamungkas), hantu penunggu rumah tersebut.
Kemudian, kerja sama antara dua dunia pun bermula, yang mana secara nggak
langsung justru berdampak buruk bagi keduanya.
Setiap aktor pun berhasil memberikan ‘nyawa’ bagi karakter
yang mereka mainkan. Bahkan karakter yang sekedar lewat pun cukup berkesan.
Tatjana Saphira dan Deva Mahendra keren aktingnya, Namun, yang perlu diacungi
jempol adalah penampilan dua karakter hantu, Galih dan Bening, yang dimainkan
secara apik oleh Ge Pamungkas dan Asmara Abigail. Pembawaan mereka berhasil
menarik simpati pada peristiwa memilukan yang mereka lalui.
Kemudian, predikat scene stealer bisa diberikan kepada duo Darto
(Endy Arfian) dan Billy (Iqbal Sulaiman) yang setiap kemunculan bebarengan mereka
berdua, pasti ada aja hal yang nggak beres dan memicu tawa. Selanjutnya, ada Iwan
dan Abdul yang diperankan Arie Kriting dan Muhadkly Acho yang bercekcok
mengenai hal-hal mistis, yang alih-alih serem malah jadi lucu.
Dalam film ini, visualisasi hantu dibuat cukup ramah, dalam
artian tat arias yang dipakai tidak begitu mencolok—cuman kulit mereka yang
dibuat memutih, selebihnya mereka nampak seperti manusia pada umumnya. Hal
tersebut dikarenakan, kembali lagi, bahwa genre film ini adalah komedi-horror.
Yang mana jika hantunya dibuat ‘terlalu seram’, maka dikhawatirkan akan terjadi
ketimpangan yang terjadi. Tapi, Ghost Writer berhasil mengantisipasi hal
tersebut.
Bene Dion Rajagukguk, sutradara sekaligus penulis naskah,
cukup rapi dalam membagi proposi antara elemen horror dan komedi. Ketika
memasuki wilayah horror, penonton sukses dibuat merinding, meski tak begitu
hebat. Namun, ketika unsur komedi masuk, yang mana seringkali nggak ketebak
kapan, gelak tawa akan memenuhi seisi bioskop.
Selain bermain-main dengan komedi dan horror, elemen drama
pun mempunyai porsi yang cukup besar dalam Ghost Writer. Emosi penonton akan
diaduk sedemikian rupa oleh permasalahan yang dihadapi oleh Naya, Galih, dan
orang-orang di sekelilingnya. Hal tersebut menjadi nilai plus dalam film ini,
setelah dibuat tertawa terbahak-bahak dan merinding ketakutan, penonton akan
disuguhkan drama yang menyentuh.
Hal-hal mistis juga menjadi objek eksplorasi untuk memancing
tawa dan seram. Nah, perwujudannya, compuer-generated imagery(CGI) digunakan
dalam beberapa adegan. Untungnya, penggunaannya bisa dibilang tepat sasaran dan
tidak terlalu berlebihan.
Namun setelah dirasa-rasa, pertengahan Ghost Writer terasa
begitu tergesa-tega dan memaksa penonton untuk ‘memaklumi’ konflik yang sedang
terjadi. Juga ada beberapa adegan yang kalau dihilangkan pun nggak begitu
ngaruh pada cerita secara utuh. Meski begitu, hal tersebut masih bisa dimaafkan
dengan penutup cerita yang cukup
berhasil meninggalkan kesan yang senang selepas menontonnya.
Meski belum sempurna, Ghost Writer merupakan usaha Bene Dion
Rajagukguk yang patut diapresiasi dalam upaya menyajikan hiburan paket komplit—komedi,
horror, dan drama—dalam debutnya sebagai sutradara. Mari kita tunggu
karya-karya segar darinya!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar