Laman

Selasa, 11 Juni 2019

[Ulasan Film] Ghost Writer (2019)


Sutradara: Bene Dion Rajagukguk
Penulis: Bene Dion Rajagukguk, Nonny Boenawan
Pemain: Tatjana Saphira, Ge Pamungkas, Endy Arfian, Deva Mahendra, Asmara Abigail
Genre: komedi, horor, drama

Kamu pernah denger istilah Ghost Writer nggak? Nah, menurut Wikipedia, Ghostwriter itu adalah orang yang disewa oleh orang lain untuk menuliskan sesuatu, entah itu berita, esai, atau pidato, yang kemudian ketika dipublikasikan tidak atas namanya, namun atas nama penyewanya. Jadi, semacam penulis bayangan atau hantu gitu. Ada tapi nggak ada. Nah, menariknya, di film perdana Bene Dion Rajagukguk, Ghost Writer (2019) ini, yang nulis bener-bener hantu!


Suatu hari, Naya (Tatjana Saphira), seorang penulis novel terkenal, dan adiknya, Darto (Endy Arfian) pindah ke rumah kontrakan baru. Awalnya nggak ada yang aneh dari rumah tersebut, namun setelah Naya nggak sengaja nemuin sebuah buku diary di loteng dan membacanya, lantas mengolahnya menjadi novel terbarunya, kejadian-kejadian aneh mulai bermunculan. Ternyata, buku diary tersebut milik Galih (Ge Pamungkas), hantu penunggu rumah tersebut. Kemudian, kerja sama antara dua dunia pun bermula, yang mana secara nggak langsung justru berdampak buruk bagi keduanya.

Setiap aktor pun berhasil memberikan ‘nyawa’ bagi karakter yang mereka mainkan. Bahkan karakter yang sekedar lewat pun cukup berkesan. Tatjana Saphira dan Deva Mahendra keren aktingnya, Namun, yang perlu diacungi jempol adalah penampilan dua karakter hantu, Galih dan Bening, yang dimainkan secara apik oleh Ge Pamungkas dan Asmara Abigail. Pembawaan mereka berhasil menarik simpati pada peristiwa memilukan yang mereka lalui. 

Kemudian, predikat scene stealer bisa diberikan kepada duo Darto (Endy Arfian) dan Billy (Iqbal Sulaiman) yang setiap kemunculan bebarengan mereka berdua, pasti ada aja hal yang nggak beres dan memicu tawa. Selanjutnya, ada Iwan dan Abdul yang diperankan Arie Kriting dan Muhadkly Acho yang bercekcok mengenai hal-hal mistis, yang alih-alih serem malah jadi lucu.

Dalam film ini, visualisasi hantu dibuat cukup ramah, dalam artian tat arias yang dipakai tidak begitu mencolok—cuman kulit mereka yang dibuat memutih, selebihnya mereka nampak seperti manusia pada umumnya. Hal tersebut dikarenakan, kembali lagi, bahwa genre film ini adalah komedi-horror. Yang mana jika hantunya dibuat ‘terlalu seram’, maka dikhawatirkan akan terjadi ketimpangan yang terjadi. Tapi, Ghost Writer berhasil mengantisipasi hal tersebut.

Bene Dion Rajagukguk, sutradara sekaligus penulis naskah, cukup rapi dalam membagi proposi antara elemen horror dan komedi. Ketika memasuki wilayah horror, penonton sukses dibuat merinding, meski tak begitu hebat. Namun, ketika unsur komedi masuk, yang mana seringkali nggak ketebak kapan, gelak tawa akan memenuhi seisi bioskop.

Selain bermain-main dengan komedi dan horror, elemen drama pun mempunyai porsi yang cukup besar dalam Ghost Writer. Emosi penonton akan diaduk sedemikian rupa oleh permasalahan yang dihadapi oleh Naya, Galih, dan orang-orang di sekelilingnya. Hal tersebut menjadi nilai plus dalam film ini, setelah dibuat tertawa terbahak-bahak dan merinding ketakutan, penonton akan disuguhkan drama yang menyentuh. 

Hal-hal mistis juga menjadi objek eksplorasi untuk memancing tawa dan seram. Nah, perwujudannya, compuer-generated imagery(CGI) digunakan dalam beberapa adegan. Untungnya, penggunaannya bisa dibilang tepat sasaran dan tidak terlalu berlebihan.

Namun setelah dirasa-rasa, pertengahan Ghost Writer terasa begitu tergesa-tega dan memaksa penonton untuk ‘memaklumi’ konflik yang sedang terjadi. Juga ada beberapa adegan yang kalau dihilangkan pun nggak begitu ngaruh pada cerita secara utuh. Meski begitu, hal tersebut masih bisa dimaafkan dengan penutup cerita yang cukup  berhasil meninggalkan kesan yang senang selepas menontonnya.

Meski belum sempurna, Ghost Writer merupakan usaha Bene Dion Rajagukguk yang patut diapresiasi dalam upaya menyajikan hiburan paket komplit—komedi, horror, dan drama—dalam debutnya sebagai sutradara. Mari kita tunggu karya-karya segar darinya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar