The
Big Sick
Sutradara:
Michael Showalter
Pemain:
Kumail Nanjiani, Zoe Kazan, Holly Hunter, Ray Romano
Skenario:
Emily V. Gordon, Kumail Nanjiani
Genre:
Comedy, Drama, Romance
Music
: Michael Andrew
Sinematografer:
Brian Burgoyne
Dengan adanya
nama Kumail Nanjiani, baik sebagai penulis skenario maupun aktor, saya
berekspektasi bahwa The Big Sick ini adalah film komedi. Ya, pasti ada drama
romantisnya, namun di pikiran saya komedi akan mempunyai porsi yang lebih
banyak mengingat Kumail, setahu saya, adalah stand-up comedian. Bayangan saya,
awalnya, film ini akan berisi lawakan-lawakan absurd tentang percintaan,
sebagaimana film romcom pada umumnya. Dan di sepertiga durasi, saya sadar, saya
salah besar.
Premis
Kumail adalah
seorang imigran dari Pakistan yang sudah lama menetap bersama keluarganya di
Amerika. Dia hidup sebagai supir uber dan seorang stand-up comedian. Dan suatu
malam, seorang wanita melakukan heckle ketika ia sedang melawak dan siapa
sangka itu adalah awal dari kerumitan sepanjang durasi film tersebut. Bercerita
tentang pergesekkan tradisi keluarga dengan pendirian pribadi, perjuangan
bertahan hidup di Amerika, dan tentu saja kisah kasih yang penuh lika-liku.
Ulasan
Seperti yang
tadi saya bilang di atas, saya tak berekspektasi bahwa isu yang dibawa oleh
Kumail dalam film ini cenderung isu sensitife yang cukup serius. Tapi, saya
sangat menikmati bagaimana adegan demi adegan berlalu, mengalir begitu tenang. Saya
awalnya berharap akan menonton film komedi yang menyenangkan, namun saya tak
menyangka akan mendapatkan sesuatu yang lebih. Sebuah sajian yang istimewa. Tak
heran kalau film ini mendapat nominasi sebagai Best Original Screenplay di
Oscar tahun lalu.
Saya jarang
sekali menyukai film komedi-romantis karena kebanyakan dari mereka, baik
bikinan sineas luar—crazy ehem rich ehem ‘overrated’
asian ehem— maupun dalam negeri,
terkesan menye-menye dan terasa terlalu mengkhayal, dalam artian sulit
membayangkannya untuk terjadi di kehidupan nyata. Tapi, The Big Sick ini mampu
memberikan kisah yang mudah diterima dan bikin senyum-senyum sendiri, antara
sebagian besar dari kita pernah mengalami hal yang sama atau mungkin pernah
mendengarkan cerita teman yang serupa.
Kemudian, elemen
romannya pun sangat bisa diterima. Tidak ada gombalan-gombalan macam rindu itu
berat atau semacamnya. Sebab, kebanyakan roman di film ini diceritakan melalui
bagaimana karakternya saling memperlakukan sama lain. Pun dialog-dialog
canggung antar karakter yang terasa lebih bisa dipercaya dan dekat dengan
pengalaman kita.
Emosi
diaduk-aduk sedemikian rupa. Serasa kita ikut andil dalam setiap masalah yang
diterima setiap karakternya. Konflik-konflik yang berhasil bikin sedih, marah,
senang, dan semuanya.
Saya merasa
ulasan ini terlalu bias sebab saya sangat menyukai film ini. Tailah.
Selanjutnya,
akting. Kumail berperan sangat baik sebagai.. Kumail, dirinya sendiri. Iya,
katanya film ini terinspirasi dari kisah hidupnya. Orang-orang aslinya pun
ditunjukkan begitu filmnya selesai. Paling keren menurut saya adalah Emily dan
Ibunya. Dua-duanya mampu memberikan elemen drama semakin terasa, di saat Kumail
di beberapa kesempatan menjadi sumber tawa.
Meski drama
mendapat porsi yang lebih besar, komedi dalam film ini juga bekerja dengan
sangat baik. Tidak, komedi di film ini tidak memberikan kebodohan atau hal
absurd hanya untuk memancing gelak tawa. Komedi disampaikan melalui gagasan dan
pemikiran yang kritis dan cerdas, bahkan di beberapa waktu saya mendapati Kumail
memberikan dark jokes di beberapa
adegan. Selebihnya tawa berasal dari kecanggungan antara Kumail dengan orang
tua pacarnya, teman-teman stand-up comediannya, dan tingkah laku kasmarannya
sendiri.
Sudah-sudah,
mending kalian segera menonton film ini. Saya sangat senang untuk
merekomendasikan film yang bagus agar lebih banyak orang yang menyaksikan
betapa bagusnya film.
Nilai: 9/10

Tidak ada komentar:
Posting Komentar