Laman

Minggu, 27 Januari 2019

[Movie Review] The Big Sick (2017)



The Big Sick

Sutradara: Michael Showalter

Pemain: Kumail Nanjiani, Zoe Kazan, Holly Hunter, Ray Romano

Skenario: Emily V. Gordon, Kumail Nanjiani

Genre: Comedy, Drama, Romance

Music : Michael Andrew

Sinematografer: Brian Burgoyne



Dengan adanya nama Kumail Nanjiani, baik sebagai penulis skenario maupun aktor, saya berekspektasi bahwa The Big Sick ini adalah film komedi. Ya, pasti ada drama romantisnya, namun di pikiran saya komedi akan mempunyai porsi yang lebih banyak mengingat Kumail, setahu saya, adalah stand-up comedian. Bayangan saya, awalnya, film ini akan berisi lawakan-lawakan absurd tentang percintaan, sebagaimana film romcom pada umumnya. Dan di sepertiga durasi, saya sadar, saya salah besar.


Premis

Kumail adalah seorang imigran dari Pakistan yang sudah lama menetap bersama keluarganya di Amerika. Dia hidup sebagai supir uber dan seorang stand-up comedian. Dan suatu malam, seorang wanita melakukan heckle ketika ia sedang melawak dan siapa sangka itu adalah awal dari kerumitan sepanjang durasi film tersebut. Bercerita tentang pergesekkan tradisi keluarga dengan pendirian pribadi, perjuangan bertahan hidup di Amerika, dan tentu saja kisah kasih yang penuh lika-liku.


Ulasan

Seperti yang tadi saya bilang di atas, saya tak berekspektasi bahwa isu yang dibawa oleh Kumail dalam film ini cenderung isu sensitife yang cukup serius. Tapi, saya sangat menikmati bagaimana adegan demi adegan berlalu, mengalir begitu tenang. Saya awalnya berharap akan menonton film komedi yang menyenangkan, namun saya tak menyangka akan mendapatkan sesuatu yang lebih. Sebuah sajian yang istimewa. Tak heran kalau film ini mendapat nominasi sebagai Best Original Screenplay di Oscar tahun lalu.


Saya jarang sekali menyukai film komedi-romantis karena kebanyakan dari mereka, baik bikinan sineas luar—crazy ehem rich ehem ‘overrated’ asian ehem—  maupun dalam negeri, terkesan menye-menye dan terasa terlalu mengkhayal, dalam artian sulit membayangkannya untuk terjadi di kehidupan nyata. Tapi, The Big Sick ini mampu memberikan kisah yang mudah diterima dan bikin senyum-senyum sendiri, antara sebagian besar dari kita pernah mengalami hal yang sama atau mungkin pernah mendengarkan cerita teman yang serupa. 


Kemudian, elemen romannya pun sangat bisa diterima. Tidak ada gombalan-gombalan macam rindu itu berat atau semacamnya. Sebab, kebanyakan roman di film ini diceritakan melalui bagaimana karakternya saling memperlakukan sama lain. Pun dialog-dialog canggung antar karakter yang terasa lebih bisa dipercaya dan dekat dengan pengalaman kita.


Emosi diaduk-aduk sedemikian rupa. Serasa kita ikut andil dalam setiap masalah yang diterima setiap karakternya. Konflik-konflik yang berhasil bikin sedih, marah, senang, dan semuanya. 


Saya merasa ulasan ini terlalu bias sebab saya sangat menyukai film ini. Tailah.


Selanjutnya, akting. Kumail berperan sangat baik sebagai.. Kumail, dirinya sendiri. Iya, katanya film ini terinspirasi dari kisah hidupnya. Orang-orang aslinya pun ditunjukkan begitu filmnya selesai. Paling keren menurut saya adalah Emily dan Ibunya. Dua-duanya mampu memberikan elemen drama semakin terasa, di saat Kumail di beberapa kesempatan menjadi sumber tawa.


Meski drama mendapat porsi yang lebih besar, komedi dalam film ini juga bekerja dengan sangat baik. Tidak, komedi di film ini tidak memberikan kebodohan atau hal absurd hanya untuk memancing gelak tawa. Komedi disampaikan melalui gagasan dan pemikiran yang kritis dan cerdas, bahkan di beberapa waktu saya mendapati Kumail memberikan dark jokes di beberapa adegan. Selebihnya tawa berasal dari kecanggungan antara Kumail dengan orang tua pacarnya, teman-teman stand-up comediannya, dan tingkah laku kasmarannya sendiri.


Sudah-sudah, mending kalian segera menonton film ini. Saya sangat senang untuk merekomendasikan film yang bagus agar lebih banyak orang yang menyaksikan betapa bagusnya film.



Nilai: 9/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar