Laman

Selasa, 22 Januari 2019

[Movie Review] Glass (2019)



Sutradara: M. Night Shyamalan
Penulis: M. Night Shyamalan
Pemain: James McAvoy, Bruce Willis, Samuel L. Jackson, Sarah Paulson, Anya Taylir-Joy
Genre: Superhero, thriller, drama, action
Music: West Dylan Thordson
Sinematografer: Mike Gioulakis

                           Nilai: 7.5/10                              

The Sixth Sense (1999) adalah film pertama karya M. Night Shyamalan yang pernah saya tonton. Salah satu film klasik yang punya daya pikat dan keunikan tersendiri. Mulai dari cerita dan bagaimana cerita tersebut disampaikan. Kemudian, berangkat dari situ, saya secara sepihak mengambil kesimpulan bahwa otak Shyamalan adalah salah satu karunia yang benar-benar mengagumkan. Ia selalu punya gagasan tersendiri yang berkelok-kelok yang sulit ditebak kemana kita akan diarahkannya. Maka, ekspektasi pun melambung tinggi ketika mengetahui ia berencana akan membuat trilogi yang masing-masing mempunyai karakter yang unik dan penuh intrik. Kegemparan mulai terasa ketika ia mengumumkan bahwa di film penutup triloginya, ketiga karakter utama akan dipertemukan dan saling beradu kekuatan. Saya yang tak dulunya tak begitu tertarik, mulai merasa harus mengikuti trilogy tersebut dari Unbreakable (2000), Split (2016) dan Glass (2019), kemudian mulai menontonnya satu per satu hingga tadi siang saya baru saja menonton Glass.

Premis Glass
David Dunn ( Bruce Willis ) menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk melacak Kevin Wendell Crumb (James McAvoy) yang semakin menggila setelah keluarnya The Beast, kepribadian ke-24 yang ada di dalam tubuhnya. Tak lupa, mereka berdua pun bersinggungan dengan Elijah Price/Mr. Glass (Samuel L Jackson) yang diam-diam memiliki rencana rahasia untuk mereka bertiga.


 Ulasan
Selayaknya trilogi, maka tiga film yang ada saling berkaitan satu sama lain. Berbeda dengan antologi yang film satu dengan lainnya bisa jadi memiliki cerita yang sepenuhnya berbeda. Oleh sebab itu, saya sangat menganjurkan untuk menonton Unbreakable (2000) dan Split (2016) terlebih dahulu sebelum grasa-grusu menonton Glass (2019). Memang ada beberapa adegan kilas balik dan penjelasan verbal terkait latar belakang ketiga karakter tersebut, namun akan lebih menyenangkan untuk mengetahui lebih detail motivasi dan cerita dari masing-masing karakter di dua film sebelumnya. Sebab, jika langsung meloncat menuju Glass, saya khawatir akan terjadi kebingungan di beberapa adegan dan dapat menurunkan level kesenangan ketika menontonnya. Mungkin hal tersebut, yaitu tidak menonton dua prekuelnya, yang membuat banyak kritikus menilai film ini dengan nilai yang jauh di bawah ekspektasi saya.

Jika dibagi menjadi tiga bagian, Glass memiliki kadar keseruan yang kurang merata dan bahkan bisa dibilang klimaksnya tak terlalu menonjok seperti yang saya harapkan. Sepertiga awal memberikan kesan film ini akan memberikan sesuatu yang menyenangkan untuk di simak, namun ketika memasuki pertengahan tensi film menurun dan kendor, lalu sepertiga akhir ditutup dengan cukup bagus. Kenapa hanya ‘cukup bagus’? Sebab saya berharap lebih kepada M. Night Shyamalan. Tidak jelek, namun kok, seperti yang saya bilang tadi, kurang menonjok saja.

Namun, saya merasa bahwa Shyamalan berusaha begitu keras untuk menghipnotis penonton dengan fakta-fakta mengejutkan yang dapat membuat penonton meragukan apa yang sudah mereka percayai sepanjang durasi. Hanya saja, mungkin karena kurangnya pengenalan atau penjelasan dan latar belakang  salah satu karakter penting selain tiga tokoh utama, yakni karakter yang dimainkan Sarah Paulson, yang membuat saya sedikit kebingungan terhadap siapa dia sebenarnya. Memang motivasinya cukup jelas, tapi dalam beberapa bagian saya mendapat informasi yang bukannya menjelaskan melainkan menambah pertanyaan. Mungkin hanya saya saja atau bagaimana.

Berbicara mengenai akting, James McAvoy jelas masih menjadi favorit saya. Jika di Split ia hanya menjadi paling tidak 5 kepribadian, di sini lebih dari itu, saya tidak menghitung tapi banyak.  Edan sekali memang dia. Sisanya seperti Samuel L Jackson, Bruce Willis dan Sarah Paulson tidak perlu diragukan lagi, cukup bagus. Oya, Anya Taylor-Joy. Porsinya lebih sedikit ketimbang di Split, tapi tetep cantik. Aktingnya.

Scoring-nya pun terasa, dalam artian memiliki ciri khas dan berbeda dari film-film Hollywood kebanyakan. Sangat membantu memberi dukungan suasana yang mampu bikin tensi adegan lebih kerasa. Meskipun, menurut saya, scoring-nya agak mirip dengan Get Out. Tapi, berhubung Glass dan Get Out berasal dari studio yang sama jadi ya, mungkin saja pengulangan keberuntungan.

Satu lagi elemen sederhana tapi cukup menarik perhatian saya adalah penggunaan warna yang menjelaskan kepribadian masing-masing karakternya. Mr. Glass dengan ungu, Kevin dengan kuning, dan David cenderung hijau tua. Dalam beberapa adegan, dekorasi, perabotan, baju, sengaja disesuaikan dengan warna masing-masing karakter dan itu genius menurut saya. 

Oke. Sebelumnya, ketika pertama kali Glass mengumumkan skor dan review kritikus, kebanyakan memberikan penilaian yang bikin mikir, “Ini serius Cuma segitu doang?” Tapi, berhubung saya percaya M. Night Shyamalan bukan sutradara yang sembarangan dalam bikin film, terlebih jika berkaca pada karya-karyanya yang lalu. Maka, saya memutuskan untuk menonton Glass. Kenyataannya, Glass tak seburuk seperti yang banyak kritikus bilang, meskipun tak melampaui ekspektasi saya. Paling tidak, film ini cukup menghibur dan memberikan sesuatu yang baru. Sekali lagi, ada nama M. Night Shyamalan di bangku sutradara. Itu alasan yang cukup kenapa kalian harus menontonnya. Tapi dia juga muncul jadi cameo juga :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar