Sutradara: M. Night Shyamalan
Penulis: M. Night Shyamalan
Pemain: James McAvoy, Bruce Willis, Samuel L. Jackson, Sarah
Paulson, Anya Taylir-Joy
Genre: Superhero, thriller, drama, action
Music: West Dylan Thordson
Sinematografer: Mike Gioulakis
Nilai: 7.5/10
The Sixth Sense
(1999) adalah film pertama karya M. Night Shyamalan yang pernah saya tonton.
Salah satu film klasik yang punya daya pikat dan keunikan tersendiri. Mulai
dari cerita dan bagaimana cerita tersebut disampaikan. Kemudian, berangkat dari
situ, saya secara sepihak mengambil kesimpulan bahwa otak Shyamalan adalah
salah satu karunia yang benar-benar mengagumkan. Ia selalu punya gagasan
tersendiri yang berkelok-kelok yang sulit ditebak kemana kita akan
diarahkannya. Maka, ekspektasi pun melambung tinggi ketika mengetahui ia
berencana akan membuat trilogi yang masing-masing mempunyai karakter yang unik
dan penuh intrik. Kegemparan mulai terasa ketika ia mengumumkan bahwa di film
penutup triloginya, ketiga karakter utama akan dipertemukan dan saling beradu
kekuatan. Saya yang tak dulunya tak begitu tertarik, mulai merasa harus
mengikuti trilogy tersebut dari Unbreakable (2000), Split (2016) dan Glass
(2019), kemudian mulai menontonnya satu per satu hingga tadi siang saya baru
saja menonton Glass.
Premis Glass
David Dunn (
Bruce Willis ) menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk melacak Kevin
Wendell Crumb (James McAvoy) yang semakin menggila setelah keluarnya The Beast,
kepribadian ke-24 yang ada di dalam tubuhnya. Tak lupa, mereka berdua pun
bersinggungan dengan Elijah Price/Mr. Glass (Samuel L Jackson) yang diam-diam
memiliki rencana rahasia untuk mereka bertiga.
Ulasan
Selayaknya
trilogi, maka tiga film yang ada saling berkaitan satu sama lain. Berbeda
dengan antologi yang film satu dengan lainnya bisa jadi memiliki cerita yang
sepenuhnya berbeda. Oleh sebab itu, saya sangat menganjurkan untuk menonton
Unbreakable (2000) dan Split (2016) terlebih dahulu sebelum grasa-grusu
menonton Glass (2019). Memang ada beberapa adegan kilas balik dan penjelasan
verbal terkait latar belakang ketiga karakter tersebut, namun akan lebih
menyenangkan untuk mengetahui lebih detail motivasi dan cerita dari
masing-masing karakter di dua film sebelumnya. Sebab, jika langsung meloncat
menuju Glass, saya khawatir akan terjadi kebingungan di beberapa adegan dan
dapat menurunkan level kesenangan ketika menontonnya. Mungkin hal tersebut,
yaitu tidak menonton dua prekuelnya, yang membuat banyak kritikus menilai film
ini dengan nilai yang jauh di bawah ekspektasi saya.
Jika dibagi
menjadi tiga bagian, Glass memiliki kadar keseruan yang kurang merata dan
bahkan bisa dibilang klimaksnya tak terlalu menonjok seperti yang saya
harapkan. Sepertiga awal memberikan kesan film ini akan memberikan sesuatu yang
menyenangkan untuk di simak, namun ketika memasuki pertengahan tensi film menurun
dan kendor, lalu sepertiga akhir ditutup dengan cukup bagus. Kenapa hanya
‘cukup bagus’? Sebab saya berharap lebih kepada M. Night Shyamalan. Tidak
jelek, namun kok, seperti yang saya bilang tadi, kurang menonjok saja.
Namun, saya
merasa bahwa Shyamalan berusaha begitu keras untuk menghipnotis penonton dengan
fakta-fakta mengejutkan yang dapat membuat penonton meragukan apa yang sudah
mereka percayai sepanjang durasi. Hanya saja, mungkin karena kurangnya
pengenalan atau penjelasan dan latar belakang salah satu karakter penting selain tiga tokoh
utama, yakni karakter yang dimainkan Sarah Paulson, yang membuat saya sedikit kebingungan
terhadap siapa dia sebenarnya. Memang motivasinya cukup jelas, tapi dalam
beberapa bagian saya mendapat informasi yang bukannya menjelaskan melainkan
menambah pertanyaan. Mungkin hanya saya saja atau bagaimana.
Berbicara
mengenai akting, James McAvoy jelas masih menjadi favorit saya. Jika di Split
ia hanya menjadi paling tidak 5 kepribadian, di sini lebih dari itu, saya tidak
menghitung tapi banyak. Edan sekali
memang dia. Sisanya seperti Samuel L Jackson, Bruce Willis dan Sarah Paulson
tidak perlu diragukan lagi, cukup bagus. Oya, Anya Taylor-Joy. Porsinya lebih
sedikit ketimbang di Split, tapi tetep cantik. Aktingnya.
Scoring-nya pun
terasa, dalam artian memiliki ciri khas dan berbeda dari film-film Hollywood kebanyakan.
Sangat membantu memberi dukungan suasana yang mampu bikin tensi adegan lebih kerasa.
Meskipun, menurut saya, scoring-nya agak mirip dengan Get Out. Tapi, berhubung
Glass dan Get Out berasal dari studio yang sama jadi ya, mungkin saja
pengulangan keberuntungan.
Satu lagi elemen
sederhana tapi cukup menarik perhatian saya adalah penggunaan warna yang
menjelaskan kepribadian masing-masing karakternya. Mr. Glass dengan ungu, Kevin
dengan kuning, dan David cenderung hijau tua. Dalam beberapa adegan, dekorasi,
perabotan, baju, sengaja disesuaikan dengan warna masing-masing karakter dan
itu genius menurut saya.
Oke. Sebelumnya,
ketika pertama kali Glass mengumumkan skor dan review kritikus, kebanyakan
memberikan penilaian yang bikin mikir, “Ini serius Cuma segitu doang?” Tapi,
berhubung saya percaya M. Night Shyamalan bukan sutradara yang sembarangan
dalam bikin film, terlebih jika berkaca pada karya-karyanya yang lalu. Maka, saya
memutuskan untuk menonton Glass. Kenyataannya, Glass tak seburuk seperti yang
banyak kritikus bilang, meskipun tak melampaui ekspektasi saya. Paling tidak,
film ini cukup menghibur dan memberikan sesuatu yang baru. Sekali lagi, ada
nama M. Night Shyamalan di bangku sutradara. Itu alasan yang cukup kenapa
kalian harus menontonnya. Tapi dia juga muncul jadi cameo juga :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar