Judul: 22 Menit
Sutradara:
Eugene Panji & Myrna Paramita
Penulis: Husein
M. Atmodjo & Gunawan Raharja
Penata Suara:
Andi Rianto
Sinematografer:
Aga Wahyudi
Pemain: Ario
Bayu, Ade Firman Hakim, Ence Bagus, Fanny Fadillah,
Genre: Crime,
action, drama
Skor: 7.5/10
Premis
Kilas balik
menuju peristiwa pengeboman dan baku tembak yang terjadi di Jalan Thamrin,
Jakarta, 2 tahun yang lalu.
Ulasan
Terus terang,
saya jarang sekali menonton film Indonesia di bioskop, selain karena tema yang
diangkat itu-itu saja, kemudian saya amati kebanyakan film Indonesia ‘agak
mengecewakan’ menurut saya, setelah menontonnya di televisi dan bersyukur tidak
menyia-nyiakan uang dan waktu untuk pergi ke bioskop. Ketimbang film luar, Hollywood
terutama, paling tidak ada dua pertimbangan yang saya lakukan sebelum menonton
film Indonesia.
Pertama, saya
lihat reaksi atau ulasan sobat kismin saya di twitter. Mereka cenderung jujur
dan terkadang saya menyukai umpatan kekecewaan mereka. Jika banyak yang bilang
bagus, pastilah kalau ada waktu dan uang, saya akan pergi menonton. Pun sebaliknya.
Kedua, kalau saya menang kuis menonton gratis. Paling tidak, kalau filmnya mengecewakan,
saya tak terlalu rugi.
Film 22 menit
ini kebetulan memenuhi dua pertimbangan yang saya punya. Banyak reaksi positif
akan film ini di media sosial dan juga saya mendapat 2 tiket gratis dari akun
resmi Universitas Airlangga di twitter. Maka berangkatlah kami ke bioskop.
Oke. Itu tadi
semacam sambutan, berikutnya adalah ulasan sesungguhnya.
22 Menit adalah
salah satu jenis film yang jarang muncul di dunia layar lebar Indonesia. Mulai dari
genre dan tema yang diangkat. Di situ, mereka punya kelebihan. Apalagi ini
berdasarkan kisah nyata. Masalahnya adalah apakah mereka mampu membuat rekaan
yang tak begitu melenceng dari kenyataan (Ingat ini film) sekaligus memuaskan
dahaga akan hiburan milik penonton?
Mengesampingkan
kesesuaian dengan kejadian sebenarnya, film ini bisa dibilang diatas rata-rata
film Indonesia lainnya. Biar saya jelaskan.
Peristiwa bom
tersebut diperlihatkan dari beberapa sudut pandang tokoh yang berbeda. Mulai dari
polisi lalu lintas, komandan polisi, hingga office boy. Dan masing-masing punya
latar belakang yang berbeda dan yang saya suka adalah bagaimana perbedaan itu
digunakan untuk menarik simpati penonton. Hanya saja, menurut saya, akan lebih
baik lagi kalau hubungan antar tokoh digali lebih dalam lagi.
Aktor-aktor yang
bermain dalam film ini beberapa sudah punya nama di industri hiburan tanah air
dan sekiranya penampilan mereka cukup meyakinkan sesuai peran mereka
masing-masing. Yang paling menonjol, menurut saya, adalah Ario Bayu. Keren dia.
Badan, gerak gerik, gimik, cocok sekali dengan peran yang ia mainkan. Tak kalah,
juga ada ence bagus dan fanny fadillah, adik-kakak yang cukup menyita
perhatian.
Salah satu hal
yang membuat film ini berbeda dari film Indonesia kebanyakan adalah scoring-nya. Keren sangat. Terdengar
megah dan sangat membantu dalam adegan-adegan tertentu. Suara seperti ledakan,
desingan peluru, detak jantung dan lain-lain, sangatlah menambah kengerian dan
membuat deg-degan di sebagian besar durasi.
Film ini juga
menggunakan CGI, tapi menurut saya, cukup bagus dan pas saja begitu. Tak berlebihan.
Walaupun masih agak kasar, cukuplah.
Seharusnya, film
ini bisa lebih bagus jika, itu tadi, hubungan antar karakter digali lagi dan
mungkin juga dengan detail-detail kecil lainnya. Oya, saya juga menyadari
adanya plot hole yang cukup mengganggu logika saya. Bukannya menyepelekan,
hanya saja informasinya tidak diberikan kepada penonton. Jadi, lho kok
tiba-tiba begitu. Atau mungkin hanya saya saja.
Dan, ya, ENDINGNYA! Berani dan sangat jarang ada film Indonesia menutup film seperti itu. Berpotensi berlanjut, entah itu prekuel atau sekuel dari Bom Thamrin. Yang jelas, gila.
Dan, ya, ENDINGNYA! Berani dan sangat jarang ada film Indonesia menutup film seperti itu. Berpotensi berlanjut, entah itu prekuel atau sekuel dari Bom Thamrin. Yang jelas, gila.
Tontonlah. Jarang
ada film Indonesia seperti ini. Durasinya lebih dari 22 menit kok, santai. Tapi
juga tidak begitu panjang. Jadi cukup menyenangkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar