Laman

Jumat, 21 September 2018

[Movie Review] Crazy Rich Asians (2018)



Judul: Crazy Rich Asians
Sutradara: Jon M. Chu
Penulis: Peter Chiarelli, Adele Lim, Kevin Kwan
Sinematografi: Vanja Cernjul
Musik: Bryan Tyler
Pemain: Constance Wu, Henry Golding, Michelle Yeoh, Gemma Chan, Lisa Lu, Awkwafina
Genre: drama, keluarga

Nilai: 7

Premis
Rachel Chu hendak menghadiri pesta pernikahan teman Nick Young di Singapura. Di saat bersamaan, itu adalah kesempatannya untuk bertemu dan berkenalan dengan keluarga kekasihnya, yang ternyata sedikit diketahuinya adalah salah satu keluarga terkaya di Asia. Dan perjuangan mendapatkan restu calon mertua adalah fokus utama film ini.


Ulasan
Twit-twit pujian atas film ini, baik dari pengulas dalam maupun luar negeri, berseliweran di linimasa saya dan tentu saja menarik perhatian saya. Karena film ini adalah sesuatu yang baru, setidaknya dalam perfilman Hollywood. Menjadikan asia sebagai latar belakang yang mendasar pun pemerannya benar-benar dari—atau setidaknya keturunan asia tulen—Asia bukan whitewashing sebagai pemeran utama, bahkan rata-rata kru juga berasal dari benua terluas itu. Sangat beresiko, tapi voila, muncullah Crazy Rich Asians yang dipuji-puji khalayak.

Dan mungkin saya bukan target pasar yang ingin dipuaskan oleh film ini. Karena, opini saya cenderung berlawanan dengan pendapat kebanyakan orang.

Bagus, kok. Tapi ya sekedar bagus menjurus ke biasa saja menurut saya. Mulai dari cerita yang sederhana dan mudah sekali ditebak bagaimana ceritanya akan berakhir—bahkan dari 20 menit pertama sudah punya rekaan cerita sendiri dan terbukti benar di akhir, meskipun jalan yang dilalui tentu saja berbeda. Karena, bagaimanapun, cerita adalah kunci utama pun dengan ending-nya yang harus berkesan.

Akting yang disuguhkan oleh pemeran pendukung justru menutupi dua pemeran utama. Perhatian penonton dicuri oleh pemeran Ibu—Eleanor Young-- dari Nick Young dan teman Rachel, Peik Lin. Oleh Eleanor Young emosi kita bakal diaduk-aduk sampai ingin rasanya memaki akibat karakter yang ia perankan begitu menjengkelkan. Sementara itu, Peik Lin memberikan ruang kita untuk tertawa sejenak melupakan lika-liku kisah cinta Rachel Chu dan Nick Young. Perlu saya tegaskan kalau penampilan pemeran utama tidak jelek, hanya saja agak kebanting dengan performa dua pemain pendukung ini. Menurut saya.

Yang patut diacungi jempol adalah penata artistik yang menangani dekorasi di tiap adegan, yang ternyata adalah orang Indonesia, Teddy Setiawan. Detail benda, warna, tata letak, semuanya sangat memanjakan mata. Selain itu juga scoring yang sangat Asia, namanya juga film berlatar Asia, dan juga pilihan-pilihan lagu yang mendukung suasana di beberapa adegan tertentu.

Terlepas dari itu semua, ada tiga adegan yang sangat saya suka dan bagus menurut saya. Yakni ketika di apartemen di London, pernikahan teman Nick Young, dan saat Rachel dan calon mertuanya bermain Mahjong—yang ternyata setelah saya cari tahu penjelasan cara bermainnya, adegan tersebut resmi menjadi adegan favorit saya di film ini.

Ada yang memuji habis-habisan, ada yang merasa biasa seperti saya—bahkan ada teman yang bilang saya tidak punya hati, ya, bisa jadi. Tapi semua kembali selera. Tak perlu memaksa. Tontonlah dan nilainya sesuka hati.

1 komentar:

  1. Casino - Dr. McDowell, MA - MGM
    The Casino at MGM Springfield has 충주 출장샵 been 광양 출장안마 operating since 1999. The hotel offers 300 rooms and 전주 출장샵 suites, an array of table 공주 출장마사지 games, a 전라북도 출장마사지 full bar and an impressive dining

    BalasHapus