Judul: Marlina
Si Pembunuh Dalam Empat Babak
Sutradara: Mouly
Surya
Penulis
Skenario: Rama Adi, Garin Nugroho, Mouly Surya
Musik: Yudhi
Arfani, Zeke Khaseli
Sinematografer:
Yunus Pasolang
Pemain: Marsha
Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama, Egy Fedly
Nilai:
8.5/10
Sinopsis
Seorang janda
tinggal di Sumba hingga suatu hari datang Markus yang berniat untuk merampok
dan memerkosa dirinya, bersama enam orang temannya. Akibat dari perlawanan yang
Marlina lakukanlah cerita ini bermula, menjurus ke permasalahan yang lebih
rumit, pelik, dan menyeret orang-orang lain.
Ulasan
Terus terang,
sulit untuk menulis ulasan film ini tanpa membeberkan ceritanya. Karena, ya,
seperti yang bisa kalian baca di judul, Marlina ini adalah pembunuh. Dan kebetulan
film ini dibagi menjadi empat babak—the robbery, the journey, the confession,
dan the birth—maka, sangat tidak mengejutkan kenapa film ini berjudul seperti
itu.
Film ini adalah
salah satu film Indonesia yang bikin saya bertanya-tanya, “Yakin ini buatan
orang Indonesia? Film Indonesia?” karena, ya, keren sekali dan sangat beda dari
film-film Indonesia kebanyakan. Mulai dari tema, musik, sinematografi, dan
akting, semuanya benar-benar berkelas. Tak heran kalau film ini masuk nominasi
beberapa kategori bergengsi macam film terbaik, sutradara terbaik, aktris
terbaik, dan sinematografi terbaik di festival film mancanegara dan memenangkan
beberapa di antaranya.
Bahkan, film ini
melahirkan julukan atau genre tersendiri bagi film Indonesia yang disebut Satay
Western atau adaptasi dari film western amerika, hanya saja Satay Western
adalah genre khusus film koboi dari Indonesia. Kenapa Satay? Karena penamaan
genre tersebut biasanya menggunakan makanan khas negera tersebut—sama halnya
dengan Spaghetti Western untuk film koboi buatan Italia.
Keren sangat,
apalagi sinematografinya yang menyuguhkan pemandangan padang rumput Sumba,
serta musik yang dipakai mengingatkan saya dengan film Django Unchained karya
Quentin Tarantino.
Satu hal yang
unik menurut saya adalah pengambilan gambarnya. Sepanjang film kamera tidak
bergerak sama sekali tiap adegan, tanpa zooming
in/out, panning, tracking, dan
following. Benar-benar stand-still,
dan membiarkan aktor bermain dengan satu kali take. Maka di situlah kerja Art Director, sutradara, dan sinematografi
sangat terlihat. Kerenlah.
Meski begitu
film ini akan sangat membosankan bagi orang yang tak terbiasa dengan film jenis
art house—banyak long shot, dialog dibuar sewajar-wajarnya, alur lambat, sulit
dipahami, tragis baik mental atau fisik, jarang berakhir bahagia dan film
festival yang jika ditayangkan di bioskop umunya sepi penonton dan cepat turun
layar—jadi, saran saya tontonlah hanya saat keadaan sehat dan pikiran fresh. Karena
ini bukan film komedi.
Film ini
membuktikan bahwa sineas-sineas kita mampu bersaing di kancah internasional,
tanpa harus melepaskan ciri khas Indonesia. Juga, membuka peluang dan pintu
untuk sineas-sineas berbakat lainnya. Film seperti inilah yang seharusnya kita
dukung, bukan yang yah tahu sendirilah.

yah, tahu sendirilah. :))
BalasHapus