Laman

Minggu, 10 Juni 2018

[Ulasan Film] Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017)


Judul: Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak
Sutradara: Mouly Surya
Penulis Skenario: Rama Adi, Garin Nugroho, Mouly Surya
Musik: Yudhi Arfani, Zeke Khaseli
Sinematografer: Yunus Pasolang
Pemain: Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama, Egy Fedly
Nilai: 8.5/10                                        

Sinopsis
Seorang janda tinggal di Sumba hingga suatu hari datang Markus yang berniat untuk merampok dan memerkosa dirinya, bersama enam orang temannya. Akibat dari perlawanan yang Marlina lakukanlah cerita ini bermula, menjurus ke permasalahan yang lebih rumit, pelik, dan menyeret orang-orang lain. 


Ulasan
Terus terang, sulit untuk menulis ulasan film ini tanpa membeberkan ceritanya. Karena, ya, seperti yang bisa kalian baca di judul, Marlina ini adalah pembunuh. Dan kebetulan film ini dibagi menjadi empat babak—the robbery, the journey, the confession, dan the birth—maka, sangat tidak mengejutkan kenapa film ini berjudul seperti itu.

Film ini adalah salah satu film Indonesia yang bikin saya bertanya-tanya, “Yakin ini buatan orang Indonesia? Film Indonesia?” karena, ya, keren sekali dan sangat beda dari film-film Indonesia kebanyakan. Mulai dari tema, musik, sinematografi, dan akting, semuanya benar-benar berkelas. Tak heran kalau film ini masuk nominasi beberapa kategori bergengsi macam film terbaik, sutradara terbaik, aktris terbaik, dan sinematografi terbaik di festival film mancanegara dan memenangkan beberapa di antaranya.

Bahkan, film ini melahirkan julukan atau genre tersendiri bagi film Indonesia yang disebut Satay Western atau adaptasi dari film western amerika, hanya saja Satay Western adalah genre khusus film koboi dari Indonesia. Kenapa Satay? Karena penamaan genre tersebut biasanya menggunakan makanan khas negera tersebut—sama halnya dengan Spaghetti Western untuk film koboi buatan Italia.
Keren sangat, apalagi sinematografinya yang menyuguhkan pemandangan padang rumput Sumba, serta musik yang dipakai mengingatkan saya dengan film Django Unchained karya Quentin Tarantino. 

Satu hal yang unik menurut saya adalah pengambilan gambarnya. Sepanjang film kamera tidak bergerak sama sekali tiap adegan, tanpa zooming in/out, panning, tracking, dan following. Benar-benar stand-still, dan membiarkan aktor bermain dengan satu kali take. Maka di situlah kerja Art Director, sutradara, dan sinematografi sangat terlihat. Kerenlah.

Meski begitu film ini akan sangat membosankan bagi orang yang tak terbiasa dengan film jenis art house—banyak long shot, dialog dibuar sewajar-wajarnya, alur lambat, sulit dipahami, tragis baik mental atau fisik, jarang berakhir bahagia dan film festival yang jika ditayangkan di bioskop umunya sepi penonton dan cepat turun layar—jadi, saran saya tontonlah hanya saat keadaan sehat dan pikiran fresh. Karena ini bukan film komedi.

Film ini membuktikan bahwa sineas-sineas kita mampu bersaing di kancah internasional, tanpa harus melepaskan ciri khas Indonesia. Juga, membuka peluang dan pintu untuk sineas-sineas berbakat lainnya. Film seperti inilah yang seharusnya kita dukung, bukan yang yah tahu sendirilah.

1 komentar: