Judul: Hell or
High Water (2016)
Sutradara: David
Mackenzie
Penulis: Taylor
Sheridan
Sinematografer:
Giles Nuttgens
Musik: Nick Cave
dan Warren Ellis
Pemain: Chris
Pine, Ben Foster, Jeff Bridges, Gil Birmingham
Genre: Crime, drama
Nilai: 7.5/10
"I’ve been poor my whole life, like a desease passing from generation to generation. But not my boys, not anymore."
Sinopsis
Howard bersaudara
yang berusaha untuk memperbaiki hidup mereka dan menghilangkan embel-embel
kemiskinan dalam garis keturunan. Hanya saja, cara yang mereka lakukan cukup
beresiko dan melanggar hukum. Dan masuklah seorang Ranger (semacam polisi) yang
hendak pension dan menjadikan kasus tersebut sebagai pengabdian yang
terakhirnya.
Ulasan
Nuansa western
cukup terasa di film ini, berikut dengan cerita tentang tindak kejahatan, kecakapan
penegak hukum, dan tentu saja perbukitan yang gersang. Tapi, ya, bagaimanapun juka
film ini mempunyai pembeda yang cukup mencolok dalam penyampaian cerita. Jika biasanya
film western cenderung menampilkan satu sisi—antagonis saja atau protagonis
saja—film ini justru menitikberatkan pada karakter, yang bisa dibilang, sebagai
antagonis, meski menampilkan juga tentang si protagonis. Jadi kita akan melihat
suatu permasalahan dari dua sudut pandang yang berbeda.
Sebenarnya
cerita film ini sudah tertera jelas pada judul filmnya, Hell or High Water. Yang
berasal dari ungkapan ‘Come hell or high water’ yang kira-kira berarti mengajak
untuk datang(baca:melakukan sesuatu) bagaimanapun kondisinya, apapun resikonya.
Jadi, ya, bisa dibilang itu adalah motto dari si Howard bersaudara.
Akting yang
cukuk apik ditunjukkan oleh para pemain, terutama mbah Jeff yang terasa begitu
cocok dengan karakter. Juga pemakaian musik dan scoring yang membantu kita
merasakan suasana, tentu saja cenderung ke gaya western. Kita juga bakal
disajikan pemandangan dari perbukitan tandus, kasino, dan hal-hal yang dekat
dengan dunia kriminal di Amerika.
Ini adalah jenis
film yang tak semua orang suka, karena meski ini adalah film bergenre kriminal,
tak banyak jedar-jedor yang bisa kita dengar, karena mungkin sutradara lebih
mementingkan cerita dan penggunaannya hanya terbatas. Dan juga bisa dibilang
film ini bertempo lambat untuk durasi sekitar 1 jam 40 menit, berpotensi
menyebabkan kantuk.
Terlepas dari
itu, film ini cukup membanggakan karena mendapat empat nominasi di ajang Oscar
tahun 2017, antara lain sebagai: Film Terbaik, Skenario Original Terbaik,
Pemeran Pendukung Pria Terbaik dan Penyuntingan Film Terbaik.
Kesimpulannya,
film ini cukup bagus untuk dijadikan tontonan, hanya saja butuh kesabaran saja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar