Genre : Thriller, horror, drama.
Rating IMDb: 8.6
Rating saya: 8.5
Saya
agak malas menuliskan informasi mengenai siapa saja aktor yang
terlibat, crew, penulis skenario dan lain-lain. Jika ingin tahu secara
rinci, silakan ke sini.
Yak,
agak sangat telat memang sodara-sodara. Premiere The Walking Dead season
1 itu tahun 2010 dan saya baru menontonnya hampir tujuh tahun kemudian. Tolong
jangan salahkan pemerintah. Setidaknya saya pernah mendengar namanya satu atau
dua tahun yang lalu. Cuma mendengar dan terlintas begitu saja. Lalu baru
menjelang priemere season tujuh kemarin, banyak foto ‘walkers’ bertebaran di explore instagram saya. Barulah saya baca-baca
sedikit. Akhirnya termakan rayuan salah seorang teman, sebut saja bella, yang sudah
menonton twd sejak dulu. Niat saya pun bulat. Tekad pun sudah mantap. Maka dengan
keteguhan hati, saya putuskan untuk sunat saat itu juga.
Anggap
saja sampeyan tidak pernah membaca paragraph diatas.
Rick
Grimes ( Andrew Lincoln ) bekerja sebagai deputi sheriff bersama
temannya Shane ( John Bernthal, Marvel’s
The Punisher Tv Series) hubungan mereka sebagai sahabat karib terlihat
sangat baik. Bromance istilahnya. Tapi, kita tak usah membahasnya. Di suatu
hari, bersama kawannya, ia dimintai bantuan untuk menangkap penjahat. Singkat cerita,
dia tertembak dan mengalami koma. (Ini bagian awal film dan menurut saya,
takkan mengurangi keseruan sampeyan ketika menontonnya sendiri.)
Yak,
agak sulit menuliskan review tanpa spoiler,
untuk menerangkan pada pembaca tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Dan
ketika ia bangun, voila! Semuanya chaos. Sekelilingnya berantakan, bahkan mayat
berceceran di segala tempat dan beberapa lagi yang hidup mengeluarkan suara
yang mengerikan, yup, the walkers
atau zombies. Kalau saya jadi dia, ya
mending terus pura-pura koma saja.
Secara
garis besar, di season pertama ini cerita terfokus pada pencarian anggota
keluarga, mencari tahu apa penyebabnya dan tentu saja bertahan hidup dengan
segala yang tersisa. Tapi, ada unsur persahabatan dan drama yang cukup kuat.
Ini
TV series tentang zombie apalagi
tentang bertahan hidup, maka bersiaplah dengan pemandangan darah dan organ yang
berceceran. Sedikit pertanda: jika sampeyan tidak takut melihat penyembelihan
ketika hari raya kurban, mungkin sampeyan bisa bertahan untuk tidak muntah di
setiap episode. Bisa dikatakan gore juga. Apalagi special effectnya yang
membuat seolah-olah ‘kekerasan’ itu terlihat nyata. Maka, jangan ajak anak atau
adik sampeyan yang masih kecil.
Tapi,
TWD tidak Cuma mengandalkan spesial make-up dan kekerasan saja, ceritanya juga
cukup bagus dan membuat kita tetap penasaran untuk mengikutinya hingga akhir. Mungkin
karena TWD berasal dari komik( writer: Robert Kirkman, artist: Tony Moore) yang
sudah berseri-seri, jadi penulis skenario punya amunisi yang banyak dan latar
belakang untuk diangkat dan bisa jadi juga karena ada Frank Darabont( penulis skenario
film-film besar seperti: The Shawsank Redemption, The Green Mile, The Mist).
Kalau masalah sutradara, rasanya tak begitu berpengaruh, karens seperti tv
series lainnya, sutradaranya ganti-ganti.
Di season pertama, TWD cuman ada 6 episode dan episode terakhirlah yang menurut saya agak mengecewakan. Sisanya cukup bagus dan penuh kekerasan.
Sangat
menghibur menurut saya dan gila tentu saja.
Ingatlah,
nggak ada kata terlambat menjadi gaul.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar