Laman

Senin, 02 Januari 2017

The Walking Dead Season 1 Review




Genre : Thriller, horror, drama.
Rating IMDb: 8.6
Rating saya: 8.5
 Saya agak malas menuliskan informasi mengenai siapa saja aktor yang terlibat, crew, penulis skenario dan lain-lain. Jika ingin tahu secara rinci, silakan ke sini.


Yak, agak sangat telat memang sodara-sodara. Premiere The Walking Dead season 1 itu tahun 2010 dan saya baru menontonnya hampir tujuh tahun kemudian. Tolong jangan salahkan pemerintah. Setidaknya saya pernah mendengar namanya satu atau dua tahun yang lalu. Cuma mendengar dan terlintas begitu saja. Lalu baru menjelang priemere season tujuh kemarin, banyak foto ‘walkers’ bertebaran di explore instagram saya. Barulah saya baca-baca sedikit. Akhirnya termakan rayuan salah seorang teman, sebut saja bella, yang sudah menonton twd sejak dulu. Niat saya pun bulat. Tekad pun sudah mantap. Maka dengan keteguhan hati, saya putuskan untuk sunat saat itu juga.

Anggap saja sampeyan tidak pernah membaca paragraph diatas.

Rick Grimes (  Andrew Lincoln  ) bekerja sebagai deputi sheriff bersama temannya Shane ( John Bernthal, Marvel’s The Punisher Tv Series) hubungan mereka sebagai sahabat karib terlihat sangat baik. Bromance istilahnya. Tapi, kita tak usah membahasnya. Di suatu hari, bersama kawannya, ia dimintai bantuan untuk menangkap penjahat. Singkat cerita, dia tertembak dan mengalami koma. (Ini bagian awal film dan menurut saya, takkan mengurangi keseruan sampeyan ketika menontonnya sendiri.)

Yak, agak sulit menuliskan review tanpa spoiler, untuk menerangkan pada pembaca tentang apa yang sebenarnya terjadi. 

Dan ketika ia bangun, voila! Semuanya chaos. Sekelilingnya berantakan, bahkan mayat berceceran di segala tempat dan beberapa lagi yang hidup mengeluarkan suara yang mengerikan, yup, the walkers atau zombies. Kalau saya jadi dia, ya mending terus pura-pura koma saja.

Secara garis besar, di season pertama ini cerita terfokus pada pencarian anggota keluarga, mencari tahu apa penyebabnya dan tentu saja bertahan hidup dengan segala yang tersisa. Tapi, ada unsur persahabatan dan drama yang cukup kuat. 

Ini TV series tentang zombie apalagi tentang bertahan hidup, maka bersiaplah dengan pemandangan darah dan organ yang berceceran. Sedikit pertanda: jika sampeyan tidak takut melihat penyembelihan ketika hari raya kurban, mungkin sampeyan bisa bertahan untuk tidak muntah di setiap episode. Bisa dikatakan gore juga. Apalagi special effectnya yang membuat seolah-olah ‘kekerasan’ itu terlihat nyata. Maka, jangan ajak anak atau adik sampeyan yang masih kecil. 

Tapi, TWD tidak Cuma mengandalkan spesial make-up dan kekerasan saja, ceritanya juga cukup bagus dan membuat kita tetap penasaran untuk mengikutinya hingga akhir. Mungkin karena TWD berasal dari komik( writer: Robert Kirkman, artist: Tony Moore) yang sudah berseri-seri, jadi penulis skenario punya amunisi yang banyak dan latar belakang untuk diangkat dan bisa jadi juga karena ada Frank Darabont( penulis skenario film-film besar seperti: The Shawsank Redemption, The Green Mile, The Mist). Kalau masalah sutradara, rasanya tak begitu berpengaruh, karens seperti tv series lainnya, sutradaranya ganti-ganti.

Di season pertama, TWD cuman ada 6 episode dan episode terakhirlah yang menurut saya agak mengecewakan. Sisanya cukup bagus dan penuh kekerasan.
 
Sangat menghibur menurut saya dan gila tentu saja. 

Ingatlah, nggak ada kata terlambat menjadi gaul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar