Laman

Selasa, 03 Januari 2017

[Review Film] The Grand Budapest Hotel [2014]


Sutradara : Wes Anderson

Penulis Skenario : Wes Anderson

Sinematografi: Robert D Yeoman

Cast: Ralph Fiennes, Edward Norton, Jude Law, Tilda Swinton, Willem Dafoe, Bill Murray…

Penghargaan: Best Motion Picture – comedy and musical di Golden Globes, Best Original Music in BAFTA awards dan banyak lagi. Cek di sini

Genre :  Drama, comedy, crime

IMDb: 8.1

Rating Saya: 8


The Grand Budapest Hotel, hotel yang indah, luas dan sangat terkenal. Salah seorang tamu memilih untuk tidur di kamar yang mungkin lebih kecil daripada lift barang, ketimbang kamar yang luas dengan berbagai jenis kemewahan,  di setiap kunjungannya. Orang itu Zero Moustafa yang diperankan Tony Revolori (Zero remaja) dan F. Murray Abraham ( ketika dewasa). Dia dulunya seorang lobby boy dan setelah melewati cerita yang cukup rumit, kini ia pemilik hotel itu.

Dan secara keseluruhan, film ini menceritakan bagaimana ini menjadi seperti sekarang.

Atasannya adalah M. Gustave (Ralph Fiennes, yang jadi voldermort itulo) adalah seorang dengan kepribadian unik dan sangat disiplin mengenai segala hal yang menyangkut hotelnya. Dari setiap tamu yang datang, ia menaruh perhatian pada perempuan tua yang kaya dan mendekati setiap mereka. Entah kenapa. Hingga ia berteman akrab dengan perempuan tua bernama Madame D. (Tilda Swinton, yang meranin The Ancient One di Dr. Strange). Saat berpamitan, ia ingin mengajak M. Gustave bersamanya, karena ia punya firasat buruk. Tapi, M Gustave menolaknya.

Dan firasat buruk itupun terjadi. Madame D meninggal beberapa hari kemudian dan kemungkinan ia dibunuh seseorang yang ingin mendapat harta warisannya. 

Dan cerita pun semakin rumit.
Itu saja.

Oke, dari segi cerita, film ini agak rumit dan absurd dengan kebetulan-kebetulan yang ditampilkan, meskipun genrenya komedi, tapi setidaknya cukup menarik untuk diikuti. 1/3 bagian pertama berpotensi untuk membuat sampeyan bosan menontonnya, karena saya juga demikian. Karena baru menuju pertengahan film, masalah yang sebenarnya mulai terungkap. Dan kita mulai menebak-nebak siapa sebenarnya yang salah dan itu perkara yang agak rumit, lebih buruk dari itu, akan terlintas dipikiran sampeyan pertanyaan : WTF is going on?

Sebagai film komedi, lucu tidaknya itu tidak bisa dinyatakan, semua tergantung selera dan referensi yang kita miliki, bisa dibilang, hit and miss

Dan yang  membuat betah saya menonton film berdurasi sekitar satu setengah jam ini adalah sinematografinya. Unik dan indah tentu saja, khas gayanya film Wes Anderson. Kombinasi warna, gambar yang agak cembung (jadi kita terfokus pada tengah-tengah) dan cenderung menempatkan tokoh di tengah atau pusat layar. Saya mencari referensi film-film lain garapannya, dan hampir semuanya melakukan teknik yang sama. Gaya yang dimilikinya bisa membuat sampeyan menebak siapa yang menyutradarai sebuah film yang sedang sampeyan tonton dan mengetahui crew dibalik sebelumnya.

Apiklah pokoke.

Scoring pun cukup enak didengar di telinga dan sampeyan tahu bahwa scoring film itu bagus ketika beberapa hari kemudian ia masih terdengar di kepala sampeyan. Ya, ramah di telinga.

Film ini juga memiliki aktor-aktor yang cukup tenar, selain empat aktor diatas, ada juga Edward Norton( Hulk di The Incredible Hulk), Willem Dafoe (Spider-Man, yang jadi Green Goblin), Jude Law( Sherlock Holmes, yang jadi John Watson) dan masih banyak lagi tentu saja.

Singkatnya, film ini agak lemah di cerita, unggul di sinematografi dan penampilan para aktornya. Nggak heran kalo film ini menjadi nominasi best motion picture di Oscar tahun 2015. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar