Laman

Minggu, 22 Januari 2017

Sherlock Season 4 Review




Creators : Mark Gatiss, Steve Moffat
Cast : Benedict  Cumberbatch, Martin Freeman, Mark Gatiss, Rupert Graves...
Genre : Mystery, drama, thriller
Imdb: 9.2
Sinopsis: Ketika Sherlock Holmes dan Dr. Watson memecahkan masalah di abad ke-21.
“I always know when the game is on. Do you know why? Because I love it.”


Sherlock adalah salah satu serial TV yang bagus, terutama dari segi cerita dan karakter, begitupun para pemainnya. Selain bagus, juga unik. Rata-rata serial TV memproduksi lebih dari delapan episode setiap seasonnya, dan Sherlock hanya memberikan tiga. Lebih buruk dari itu, kita harus menunggu, paling tidak dua tahun untuk tiap seasonnya. Sherlock dan The Walking Dead sama-sama premiere 2010, hanya saja ketika TWD sudah memasuki season ketujuh, Sherlock baru menyelesaikan season keempatnya, yang menurut rumor menjadi season terakhir.



Ya, saya setuju, lebih baik menunggu beberapa tahun untuk mendapatkan tontonan yang memuaskan ketimbang tayang tiap tahun tapi hasilnya monoton dan itu-itu saja. Dan Sherlock tidak pernah mengecewakan, sampai season keempat tayang.


Di penghujung season ketiga, Moriarty ditampilkan dalam sebuah video dan berkata, “Did you miss me?” dan itu membuat kita meragukan apa yang terjadi di beberapa episode sebelumnya. Apakah ia akan mengacau lagi? Dan beberapa bulan sebelum tayang season keempat, pihak produksi mengatakan bahwa lawan utama Sherlock dan Dr. Watson kali ini adalah Culverton Smith yang diperankan oleh Toby Jones. Tapi, tidak menutup kemungkinan James Moriarty tidak ikut campur merusak ketenangan.


Tiga episode kali ini adalah The Six Thatchers, The Lying Detective dan The Final Problem. Seperti season-season sebelumnya, cerita di tiap episode berasal dari kisah Sherlock Holmes yang di tulis oleh Sir Arthur Conan Doyle. Beberapa yang saya tahu dan pernah membaca cerita aslinya adalah A Study in Scarlet ( judulnya diganti : A Study in Pink), The Hound of The Baskervilles ( Di season dua hanya dihilangkan ‘The’, menjadi The Hound Of Baskerville), The Empty House (Diubah menjadi The Empty Hearse) dan satu lagi di season empat, The Six Napoleon, yang saya baca di buku The Return of Sherlock Holmes, yang diubah menjadi The Six Thatchers dan menjadi pembuka season keempat.


The Six Thatchers


Sherlock kembali ke London dan mendapat tugas untuk menelusuri mengenai video Moriarty, dan melanjutkan hidupnya sebagai detektif konsultan. Season ini bersetting dua tahun kemudian dari ketiga dan Watson dan Mary telah mempunyai anak dan memutuskan Sherlock sebagai godfather. Ternyata masa lalu datang dan berniat buruk pada Mary. Selain berusaha melindungi Mary, Watson dan anaknya, yang ia janjikan di episode The Sign of Three, Sherlock juga berurusan dengan kasus misterius mengenai patung-patung yang dihancurkan secara acak. 

Bagi yang sudah membaca cerita aslinya, tenang, seperti episode lainnya, ceritanya pasti beda. Sangat beda malah. Dan rasanya agak mengecewakan jika dibandingkan dengan episode satu di season-season sebelumnya. Drama yang terlalu menonjol, serta ketika di scene yang seharusnya kita haru, saya tidak bisa merasakan apa-apa atau bersimpati pada apa yang terjadi. Atau ini hanya saya saja?


Rating : 8


The Lying Detective


Baru di episode ini musuh utama Sherlock, Curverton Smith dimunculkan secara terang-terangan. Ia mempunyai rencana buruk dan untuk menjaga agar rencananya itu berjalan lancar, ia harus mengantisipasi kehadiran Sherlock dan memutuskan untuk menghabisinya. Tapi semua musuh sebelumnya juga mempunyai niat yang sama, hanya saja semua terkalahkan oleh kejeniusan Sherlock. Tapi di pertarungan kali ini agak berbeda dan kalian akan tahu sendiri ketika menontonnya sendiri.
Dibandingkan dengan episode pertama, ini lebih bagus dan rasanya sudah kembali ke jalan yang seharusnya. Solid.


Rating : 9.1


The Final Problem

Kita akan diajak masuk ke dalam masalah yang sebenarnya. Keluarga, persahabatan, musuh, semuanya bercampur di episode ini. Kita seperti diberikan petunjuk dan membuat kita berspekulasi kemana cerita akan berjalan. Sekali lagi, masa lalu kembali datang dan mengacau. Bagaimanapun Sherlock harus menghadapinya dan mengalahkannya, karena itulah satu-satunya cara untuk menghentikanya untuk berbuat jahat lagi.


Ada beberapa rahasia yang terungkap di episode ini dan cukup menarik, yang bahkan saya sendiri tidak menduga akan terjadi. Intinya episode ini tentang pertarungan dengan masa lalu.


Sebagai final episode, ini sangat mengecewakan, tidak seperti sebelum-sebelumnya, apalagi The Reichenbach Fall. Ada beberapa plot hole dan membuat kita bertanya-tanya : lho kok bisa begitu? Mana mungkin semuanya dikendalikan oleh dirinya sendiri? Tapi kan loh kan loh loh loh…


Rating : 8.5


Keseluruhan

Tidak jelek, tapi rada kebanting jika dibandingkan dengan season-season sebelumnya. Bahkan saya bisa mengatakan it’s the worst season of Sherlock. Maaf. Itu hanya opini. Salah satu faktornya adalah porsi drama mengenai keluarga Watson yang berlebihan. Yang mana seharusnya cerita harus terfokus mengenai bagaimana Sherlock memecahkan masalahnya.


Sherlock di season empat cenderung komikal atau suka melucu. Maksud saya, lebih sering ketimbang sebelumnya. Tapi, tetep Benedict Cumberbatch bermain dengan apik, begitupun pemeran lainnya. Hanya saja, ceritanya.


Kali ini, sering sekali ada efek efek tertentu yang muncul. Ledakan, ilustrasi dan lain-lain. Banyak. Sebelumnya ya paling text message, bahkan Anjing di The Hound of Baskerville efeknya sangat kasar. Unik dan cukup menarik.
Rating : 8.9


Tapi, tenang, it’s still fun and worth to watch.


Semoga ini bukan season terakhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar